Category: ESEI – OPINI

PENGALAMAN BELAJAR TRADISI LISAN MELALUI ATL

Catatan Henri Nurcahyo SEBAGAI seorang otodidak saya merasa sangat beruntung bisa bergabung dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), sebuah organisasi yang menghimpun para peminat tradisi lisan sebagai sebuah ilmu tersendiri. Banyak sekali pengalaman dan pembelajaran yang saya dapatkan selama bergabung di ATL. Saya menjadi berteman dengan para pakar tradisi lisan dan ilmu humaniora lainnya yang menjadi…

continue reading
No Comments

Agar Budaya tidak Menjadi Buaya

Catatan Henri Nurcahyo SUATU ketika, Prof. Kacung Marijan, saat menjadi Dirjen Kebudayaan berkata: “Tugas saya itu menjaga agar huruf “d” tidak hilang dalam kebudayaan.” Budaya tanpa huruf “d” akan menjadi Buaya. Dan kosa kata buaya seringkali dimaknai negatif. Seperti Lelaki Buaya, Buaya Darat, air mata buaya, dan sebagainya. Lelaki Buaya adalah lelaki yang suka main…

continue reading
No Comments

Cerita Panji Sebagai Salah Satu Unsur Warisan Budaya Takbenda Masa Majapahit

Oleh Henri Nurcahyo USAI sudah perjalanan Festival Panji ASEAN yang dilangsungkan sejak tanggal 7 – 28 Oktober 2023 di kota-kota Yogyakarta, Kediri, Malang, Surabaya, Pandaan, dan Surakarta. Sebanyak 9 dari 11 negara anggota ASEAN terlibat dalam pertunjukan kolaborasi dengan cerita “Panji Semirang.”  Memang hanya satu cerita yang dipergelarkan namun masing-masing negara mendapatkan bagian tersendiri adegan…

continue reading
No Comments

MENGENAL CERITA PANJI

Oleh Bambang Pujasworo Cerita Panji adalah cerita yang berasal dari Jawa Timur dan merupakan cerita asli Nusantara, bukan kisah versi India, yang mengisahkan kehidupan anak keturunan Raja Erlangga dari Kerajaan Kahuripan, Jawa Timur. Setting sejarah yang digunakan dalam cerita Panji adalah kisah masa Kerajaan Jenggala dan Kediri pada abad XI-XII. Tema pokok cerita Panji adalah…

continue reading
No Comments

Benarkah Wong Jawa Ilang Jawane?

Oleh Henri Nurcahyo*) Beredar berita bahwa Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, berencana menggunakan aksara Jawa pada nama-nama perkantoran di gedung Pemkot Surabaya. Eri ingin melestarikan dan mengingatkan sejarah Hanacaraka itu. “Wong Jowo ojok lali karo sejarahe (orang Jawa jangan sampai lupa dengan sejarahnya),” katanya. Sepertinya apa yang akan dilakukan Eri ini untuk menjawab tudingan bahwa…

continue reading
1 Comment

Kelana Sepi dan Sunyi Yunus Jubair

Catatan Henri Nurcahyo YUNUS Jubair pameran lukisan di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya (2 – 10 September 2023) dibuka oleh budayawan D. Zawawi Imron. Selama ini orang mengenal Yunus sebagai putra pelukis surealis Amang Rahman Jubair (alm). Gaya lukisannya pun mirip-mirip. Ini memang tak terhindarkan, sebagaimana gaya lukisan Kartika yang terpengaruh Affandi, ayahnya.…

continue reading
No Comments

Dialog Hati Roman Oi dan Ridwan

Catatan Henri Nurcahyo DUA pelukis pameran bersama, Roman Chuza atau Roman Oi dan Ridwan SS di Galeri Dewan Kesenian Surabaya. Dibuka Sabtu (9/9) oleh sesepuh Aksera yang masih tersisa, Nuzurlis Koto, dengan titel “Ilustrasi Idiom,” berlangsung hingga 15 September. Tapi saya lebih suka menyebut titel pameran ini dengan istilah “Dialog Hati”.   Kedua pelukis ini…

continue reading
No Comments

Hendro Siswanggono, Dokter yang Penyair

SUDAH sangat lama saya mendengar nama Hendro Siswanggono. Dalam buku “Antologi Puisi 25 Penyair Surabaya” terbitan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) tahun 1975 saya temukan terpampang karyanya. Sudah lama, 48 tahun yang lalu. Belakangan saya dengar dia tinggal di Sidoarjo dan saya diberi kontak oleh Mas Eka Budianta untuk bertemu dengannya. “Ketemu di RS Delta ya,…

continue reading
No Comments

Kenangan Ganjar Pranowo tentang Nirwan

Sekitar tahun 1989 seorang mahasiswa asal Makassar mengajakku nonton di Bioskop Mataram Jogja. Masalahnya kita sama sama kere alias nggak punya uang. Di tengah kebuntuan. Pemuda ini punya ide “brilian”. “Udahlah Njar, pakai duit SPP mu dulu. Eman-eman kalau nggak nonton. Kalau tulisanku dimuat, nanti aku ganti” Meski awalnya menggerutu, akhirnya saya mau. Jadilah kami…

continue reading
No Comments

BUKU, KUDA, NIRWAN ARSUKA

Oleh Hamid Basyaib TIBA-tiba suatu sore Nirwan Arsuka muncul di kantor saya di Mampang, dengan sepeda motor yang warna dan modelnya kontan mengingatkan saya pada motor tukang pos yang tiap bulan mengantarkan wesel dari kampung. Dua lapis pakaiannya terbungkus jaket kulit hitam. Kerapatan sapu tangan penutup mulutnya memastikan ia mustahil ditembus debu Jakarta. Tak jelas…

continue reading
No Comments