Author: sandhyacitralekha

PUISI UNTUK IBU

Ingin kutulis puisi untuk negeriku yang mengingatkan aku kepada ibu Aku mencari dalam kata-kata sajak pada malam-malam penuh goda Sebagaimana purnama memberi tanda ketika jiwa meleleh Pantulan sunyi rautnya menjelma pelukan maha kasih Ibu adalah tanah kelahiran bagi garuda kesatuan Udara pagi, sawah ladang dan gunung adalah air susu kehidupan Tempatku tumbuh belajar dan bermain…

continue reading
No Comments

Benarkah Wong Jawa Ilang Jawane?

Oleh Henri Nurcahyo*) Beredar berita bahwa Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, berencana menggunakan aksara Jawa pada nama-nama perkantoran di gedung Pemkot Surabaya. Eri ingin melestarikan dan mengingatkan sejarah Hanacaraka itu. “Wong Jowo ojok lali karo sejarahe (orang Jawa jangan sampai lupa dengan sejarahnya),” katanya. Sepertinya apa yang akan dilakukan Eri ini untuk menjawab tudingan bahwa…

continue reading
1 Comment

HITAM

Hitam Setimpang berat jalan Mesti dilewati Jalanmu, ku Hingga titik nadir Noktah mata kaki Ujung perjalanan Kota yang tak lagi ramah Sisa kemegahan masa lalu Setelah kebakaran Puisimu, itu aku Bernyanyilah Angin menyampaikan Hingga dahan bergemeretak Sebab kita menuju mati Meski entah bagaimana jalannya 28.07.2021 IndriYuswandari

continue reading
No Comments

Kelana Sepi dan Sunyi Yunus Jubair

Catatan Henri Nurcahyo YUNUS Jubair pameran lukisan di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya (2 – 10 September 2023) dibuka oleh budayawan D. Zawawi Imron. Selama ini orang mengenal Yunus sebagai putra pelukis surealis Amang Rahman Jubair (alm). Gaya lukisannya pun mirip-mirip. Ini memang tak terhindarkan, sebagaimana gaya lukisan Kartika yang terpengaruh Affandi, ayahnya.…

continue reading
No Comments

Dialog Hati Roman Oi dan Ridwan

Catatan Henri Nurcahyo DUA pelukis pameran bersama, Roman Chuza atau Roman Oi dan Ridwan SS di Galeri Dewan Kesenian Surabaya. Dibuka Sabtu (9/9) oleh sesepuh Aksera yang masih tersisa, Nuzurlis Koto, dengan titel “Ilustrasi Idiom,” berlangsung hingga 15 September. Tapi saya lebih suka menyebut titel pameran ini dengan istilah “Dialog Hati”.   Kedua pelukis ini…

continue reading
No Comments

Dokumentasi Berharga 52 Tahun Festival Ramayana Internasional

Catatan Henri Nurcahyo ARIF ROFIQ menerbitkan buku, judulnya (ambil nafas dulu): “Melacak Jejak Pengembangan Wisata Budaya Jawa Timur. (ditambah subjudul:) Festival Ramayana Internasional 1971 sebagai Tonggak Sejarah Pengembangan Seni Tari dan Karawitan Jawa Timuran.” Buku ini lantas dibedah (tepatnya diluncurkan) di lobi gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Kamis sore, 31 Agustus 2023. Tanggal…

continue reading
1 Comment

Jaka Tarub Dikejar Macan di Kampung Maspati

Catatan Henri Nurcahyo MENGAWALI pentas keliling 9 (Sembilan) kampung Surabaya, Ludruk “Luntas” Surabaya menyajikan lakon “Jaka Tarub Gugat” di kampung lawas Maspati, tepatnya di tepi jalan Bubutan sisi barat, Sabtu malam (12/8/23). Bagaimana cerita lengkapnya, semua orang (dianggap) sudah tahu, jadi tidak perlu dilakonkan di atas panggung. Apa yang dilakukan Robets Bayoned selaku sutradara Luntas…

continue reading
No Comments

Hendro Siswanggono, Dokter yang Penyair

SUDAH sangat lama saya mendengar nama Hendro Siswanggono. Dalam buku “Antologi Puisi 25 Penyair Surabaya” terbitan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) tahun 1975 saya temukan terpampang karyanya. Sudah lama, 48 tahun yang lalu. Belakangan saya dengar dia tinggal di Sidoarjo dan saya diberi kontak oleh Mas Eka Budianta untuk bertemu dengannya. “Ketemu di RS Delta ya,…

continue reading
No Comments

Kenangan Ganjar Pranowo tentang Nirwan

Sekitar tahun 1989 seorang mahasiswa asal Makassar mengajakku nonton di Bioskop Mataram Jogja. Masalahnya kita sama sama kere alias nggak punya uang. Di tengah kebuntuan. Pemuda ini punya ide “brilian”. “Udahlah Njar, pakai duit SPP mu dulu. Eman-eman kalau nggak nonton. Kalau tulisanku dimuat, nanti aku ganti” Meski awalnya menggerutu, akhirnya saya mau. Jadilah kami…

continue reading
No Comments

BUKU, KUDA, NIRWAN ARSUKA

Oleh Hamid Basyaib TIBA-tiba suatu sore Nirwan Arsuka muncul di kantor saya di Mampang, dengan sepeda motor yang warna dan modelnya kontan mengingatkan saya pada motor tukang pos yang tiap bulan mengantarkan wesel dari kampung. Dua lapis pakaiannya terbungkus jaket kulit hitam. Kerapatan sapu tangan penutup mulutnya memastikan ia mustahil ditembus debu Jakarta. Tak jelas…

continue reading
No Comments