Pertemuan Ajaib: Butet Kartaredjasa dengan Prabu Kertarajasa
Catatan Henri Nurcahyo (Bagian 4 – habis)
SEJARAH kadang turun dari singgasananya tanpa aba-aba. Ia tidak datang lewat kitab tebal atau pidato khidmat, melainkan menyelinap di sebuah halaman rumah, lewat sebongkah batu, lalu menatap seseorang tepat di mata. Itulah yang dialami Butet Kartaredjasa: sebuah “pertemuan” yang ganjil sekaligus akrab, ketika Prabu Kertarajasa Jayawardana—raja pertama Majapahit—seolah keluar dari lipatan abad dan berdiri di hadapannya. Bukan sebagai mitos yang jauh, melainkan sebagai cermin: satu dari batu, satu dari daging, sama-sama membawa beban sejarah dengan caranya sendiri.
Tahun 2022, dalam perjalanan di kawasan Mojosari, Mojokerto, Butet Kartaredjasa bersama sejumlah teman “dipaksa” mampir ke rumah Ribut Sumiyono di kawasan Trowulan. Pada saat itu pematung handal tersebut sedang memahat sebuah batu besar utuh setinggi 3 meter yang berasal dari letusan Gunung Kelud awal abad 19. Meski belum selesai seluruhnya, namun sudah nampak jelas sosok yang divisualkan, yaitu Prabu Kertarajasa Jayawardana. Atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya.
Butet terhenyak menyaksikannya. Ia menatapnya berlama-lama, seperti sedang bercermin, melihat dirinya sendiri: Butet Kartaredjasa “bertemu” dengan Prabu Kertarajasa. Bedanya, yang satu dari batu, yang lain dari daging, darah, dan kebiasaan merokok yang tak pernah henti.
“Ini sebuah pertemuan yang ajaib,” ujarnya.

Pikirannya menerawang ke mana-mana. Mustahil rasanya, pikir Butet, memiliki patung semegah dan tentu sangat mahal itu. Bisa ratusan juta harganya. Tak mungkin dia membeli. Tak ada kata-kata yang ke luar dari mulutnya. Butet malah melihat-lihat pecahan batu dari patung besar itu. Dia membayangkan akan membuat sesuatu dengan bahan batu yang murah saja.
Tapi sejarah memang gemar bercanda. Siapa sangka, patung raja pertama Majapahit tersebut, tiga tahun kemudian justru bertengger anggun di pelataran Le Gareca Space, Cafe, dan Gallery, di Kasihan, Bantul. Sebuah ruang budaya yang dikelola dua putri Butet. Tak perlu tanya soal harga. Itu rahasia mereka berdua. Seolah takdir berkata: pulanglah ke keluarga sendiri.
Dan ternyata, selain patung, dari bebatuan yang diperoleh dari rumah Ribut, diam-diam Butet sudah menyiapkan sebuah makam batu yang dipersiakan untuk dirinya sendiri, juga istrinya. Siapa yang meninggal lebih dulu, ada di bagian bawah. Makam batu itu sudah tersedia di rumahnya.
Ribut Sumiyono, salah satu pematung terbaik Trowulan, karyanya memang memancarkan pesona yang dahsyat. Detil pada motif hias dan ornamen pada busana dan asesorisnya. Sungguh rumit dan njlimet. Berbulan-bulan dia memahat dan mengukir Raden Wijaya diapit oleh Jayanegara di sisi kiri dan Tribhuwana Tunggadewi di sisi kanan. Tribhuwana adalah putri Gayatri Rajapatni, sementara Jayanegara lahir dari Dara Petak, perempuan Melayu Dharmasraya. Tiga sosok, tiga rahim sejarah, berdiri dalam satu tarikan napas Majapahit.
Semula Butet bingung, hendak ditaruh di mana karya yang luar biasa ini. Kalau ditempatkan di padepokan Bagong, itu bukan asetnya. Kalau di rumahnya, tak ada lagi space tersisa untuk patung sebesar itu. Hingga akhirnya patung itu menjadi landmark galeri di atas lahan seluas 2.200 meter tersebut.

Nama galeri dan resto ini memang “ke-Prancis-prancisan”: Le Gareca. Padahal itu gabungan kata lega (puas) dan reca (patung). Nama yang nakal, santai, dan penuh senyum, seperti Butet sendiri: sejarah berat yang dipanggul dengan langkah ringan, sambil sesekali tertawa. Nama Lega itu sendiri digunakan sebagai tempat penitipan anjing dan kucing di lokasi yang sama.
Meski ada cafe, namun menunya sangat berbeda dengan Warung Bu Ageng yang menyediakan menu masakan rumahan. Di cafe ini disediakan menu-menu yang sesuai dengan lidah anak muda.
Galeri di Jalan Padokan Baru 100, Jogonalan Lor, Tirtonirmolo, tersebut diresmikan tanggal 8 Desember sebulan yang lalu (maaf, baru sekarang melaporkan, hn). Ditandai dengan pembukaan pameran lukisan Gemah Ripah 3 – dengan tema “Aku Arep Mangan.” Pameran yang berlangsung hingga 9 Januari menghadirkan 111 karya dari 111 pelukis, dari berbagai kalangan. Harga termurah 3 juta, termahal hanya 25 juta, ukuran terkecil 35×47 cm, yang terbesar 140×100 cm. Padahal, ada karya-karya Agus Kamal, Nasirun, Budi Ubrux, Kartika Affandi, Erica Hesti Wahyuni, Putu Sutawijaya, Ivan Sagita, Iwan Yusuf, Melodia, Ledek Sukadi, Klowor, Anusapati, dan banyak lagi, termasuk karya Agus Noor dan Butet sendiri.
Pameran Seni Rupa Gemah Ripah yang sebelumnya diselenggarakan 23 Mei 2025 dan sebelumnya lagi tanggal 17-20 Januari 2024, keduanya berlangsung di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Yogyakarta. Waktu itu, semua karya yang dipamerkan terjual habis. Sold out. Namun kali ini, kata Butet, malah tidak ingin sold out. Artinya, supaya orang yang ikut pameran Gemah Ripah tidak semata-mata ingin terjual karyanya, namun memang ingin menyajikan karya visual yang baik. “Laku itu adalah akibat dari karya yang baik. Kalau karyanya memang bagus, mudah-mudahan bisa laku terjual,” tutur seniman multitalenta ini.

Dan ternyata, pencetus pameran ini adalah mantan Kapolda DIY yang sekarang bertugas di Mabes Polri, Suwondo Nainggolan. Dia sudah mengoleksi beberapa lukisan sebelum pameran dibuka. Mantan Capres RI Ganjar Pranowo juga membeli beberapa karya. Daftar harga beserta fotonya yang sudah diedarkan ke sejumlah kolektor memungkinkan mereka bisa memilih dan membeli tanpa harus datang langsung ke pamerannya. Prijo Jatmika misalnya, akademisi hukum pidana dari Malang, langsung mengoleksi salah satunya meski belum sempat hadir di lokasi. Sementara tokoh yang hadir saat pembukaan, antara lain Wagub DKI Jakarta, Rano Karno.
Keberadaan galeri ini, kata Butet, adalah sebuah keberhasilan meneladani Putu Sutawijaya dan Jumaldi Alfi, mendedikasikan diri dengan menyediakan ruang presentasi bagi teman-temannya dari seni visual. Di samping itu juga bisa dimanfaatkan untuk seni pertunjukan, karena di area belakang tersedia panggung outdoor. Butet lantas menyebut dua putrinya, Ichis dan Galuh, yang menginspirasi adanya tempat ini.
“Putu, pemilik Sangkring Art Space memang asuwok,” ujarnya khas.
Catatan Pamungkas
Berbeda dengan banyak ruang seni yang lahir dari proposal dan proposal lagi, Le Gareca tumbuh dari perjumpaan, dari rasa, dari obrolan yang tak selalu rapi—seperti hidup itu sendiri. Ia bukan monumen keseriusan, melainkan taman bermain sejarah: tempat raja Majapahit berdiri santai, ditemani kopi, lukisan, tawa, dan anak-anak muda yang mungkin tak hafal silsilah raja, tapi paham cara mencintai ruang. Di sinilah masa lalu tidak dipuja-puja, melainkan diajak duduk bersama, disuguhi makan, lalu diajak bercanda.
Butet tampaknya paham betul: sejarah yang terlalu disakralkan akan cepat berdebu. Maka ia menurunkannya ke tanah, ke halaman, ke meja makan. Raden Wijaya tak lagi jauh di kitab, ia kini berdiri di pelataran, dilalui anjing, kucing, seniman, pengunjung, dan kenangan. Sebuah Majapahit versi sehari-hari—yang tidak berteriak agung, tapi berbisik akrab.
Dan barangkali di situlah kuncinya. Le Gareca bukan soal patung mahal, bukan pula soal pameran yang laku atau tidak laku. Ia adalah ikhtiar kecil tapi bandel: menjaga agar seni tetap hidup, sejarah tetap bernapas, dan keluarga tetap menjadi pusat dari semua itu. Seperti doa yang tak diucap keras-keras, tapi diam-diam diyakini.
Maka jika suatu hari Anda mampir ke Le Gareca, jangan kaget bila merasa seperti sedang bertamu ke rumah lama yang baru dibuka kembali. Ada raja dari batu, ada cerita yang belum selesai, ada tawa yang menggantung di udara. Dan mungkin, di sudut tertentu, sejarah sedang merokok pelan—sambil tersenyum, karena masih ada orang-orang yang mau merawatnya dengan ringan, nakal, dan penuh cinta.

Dan pameran lukisan Gemah Ripah menjadi nadi yang membuat ruang ini benar-benar berdetak. Bukan sekadar deretan kanvas yang digantung rapi, melainkan pertemuan lintas generasi, lintas gaya, lintas niat. Dari yang sudah mapan sampai yang masih nekat, semuanya berjajar setara di dinding yang sama. Tak ada hirarki yang berisik. Yang ada hanya karya-karya yang saling menyapa, saling menguji nyali, saling mengingatkan bahwa seni rupa lahir dari keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Keputusan Butet untuk “tidak mengejar sold out” justru terasa sebagai pernyataan paling keras dalam pameran ini. Di tengah zaman yang serba cepat dan serba laku, Gemah Ripah memilih berjalan santai. Seolah berkata: biarkan lukisan-lukisan ini menemukan nasibnya sendiri. Jika ada yang pulang bersama kolektor, syukurlah. Jika masih ingin tinggal lebih lama di dinding, juga tak apa-apa. Seni, seperti manusia, butuh waktu untuk saling mengenal.
Di Le Gareca, lukisan-lukisan itu tak berdiri sendirian. Mereka berdialog dengan patung Raden Wijaya di pelataran, dengan aroma kopi dari cafe, dengan langkah pengunjung yang datang bukan hanya untuk melihat, tapi untuk mengalami. Di sinilah seni rupa turun dari pedestal, menjadi bagian dari keseharian—disaksikan sambil makan, sambil ngobrol, sambil tertawa kecil. Aku Arep Mangan bukan sekadar tema, melainkan sikap hidup: seni yang kenyang oleh pergaulan.
Pada akhirnya, pameran ini menegaskan satu hal sederhana namun sering terlupa: ruang seni bukan hanya tempat memajang karya, tetapi tempat menumbuhkan ekosistem. Le Gareca dan Gemah Ripah adalah undangan terbuka—bagi seniman, penikmat, dan siapa pun yang percaya bahwa seni tak harus selalu serius untuk menjadi bermakna. Kadang ia cukup jujur, hangat, dan sedikit usil. Seperti Butet sendiri. (selesai)
Catatan Henri Nurcahyo (Bagian 4 – habis) SEJARAH kadang turun dari singgasananya tanpa aba-aba. Ia tidak datang lewat kitab tebal atau pidato khidmat, melainkan menyelinap di sebuah halaman rumah, lewat sebongkah batu, lalu menatap seseorang tepat di mata. Itulah yang dialami Butet Kartaredjasa: sebuah “pertemuan” yang ganjil sekaligus akrab, ketika Prabu Kertarajasa Jayawardana—raja pertama Majapahit—seolah…