NORIAH MOHAMMED DARI MALAYSIA
Namanya Noriah Mohammed (82 tahun). Saya kenal perempuan asal Malaysia ini tahun 2018 ketika sama-sama menjadi narasumber seminar dalam kaitan Festival Internasional Panji di Jakarta. Sejak itu kami sering kontak-kontakan, bukan hanya via WA namun pakar sastra Melayu ini seringkali telepon langsung hanya sekadar menanyakan kabar. Perempuan keturunan Kebumen Jawa Tengah ini pernah juga saya undang menjadi narasumber dalam acara bulanan Webinar Budaya Panji. Tahun 2023, kami sempat bertemu lagi ketika saya menjadi moderator seminar di Universitas Negeri Surabaya dan beliau menjadi salah satu pembicaranya dalam rangka Festival Panji ASEAN.

Berulangkali perempuan kelahiran Malaysia ini meminta saya supaya ke Malaysia, tidur di rumahnya, “Pak Wardiman sudah pernah,” ujarnya. Di rumah besar berlantai dua itu Bu Noriah hanya tinggal berdua dengan suaminya. Lima anaknya, semuanya perempuan, sudah hidup sendiri, dua di antaranya tinggal di Inggris.
Minggu yang lalu, mantan dosen Universiti Kebangsaan Malaysia ini telepon, “Pak Cahyo, saya tanggal 5 – 11 ada di Malang, ayo ketemu,” ujarnya. Dia selalu memanggil saya Pak Cahyo. Keberadaannya di kota ini adalah menemani salah satu putrinya menghadiri sebuah acara di Universitas Negeri Malang.
Begitulah, hari Rabu kemarin (7/4) saya sempatkan menemuinya di sebuah hotel di Malang. Beliau langsung mengeluarkan sebuah tas berisi oleh-oleh untuk saya, termasuk sebuah buku antologi puisi karyanya berjudul “Antara Kita dan Masa.” Suami Bu Noriah, Ghazali Basri, juga memberikan buku karyanya berjudul “Sejarah Bani Israel. Sebuah Kajian Perbandingan Menurut Perjanjian Lama dan al-Qur’an.” Abang Ghazali (demikian saya diminta Bu Noriah memanggilnya) memang pakar dalam bidang ilmu perbandingan agama.

Gantian, saya pun memberikan buku-buku karya saya, khususnya terkait Budaya Panji, dan juga ikat kepala bermotif batik Madura yang bisa digunakan juga untuk syal. Bu Noriah sendiri selama ini banyak membahas Cerita Panji dari aspek sastra. Tesis S2-nya di UGM tentang Cerita Panji Jayeng Tilem karya Ronggowarsito, yang kemudian dibukukan. Terima kasih Bu, saya sudah mendapatkan pemberian buku bagus ini.
Bu Noriah ingin bertemu dengan teman-teman pegiat Budaya Panji. Maka saya mengagendakan pertemuan di Museum Panji, di Tumpang. Menggunakan Go Car, saya sengaja mengajaknya datang lebih awal dari jam ketemuan jam 13.00 supaya beliau ada kesempatan jalan-jalan melihat museum. Namun apalah daya, “kaki saya sudah tidak kuat Pak Cahyo, maklum sampun sempuh,” ujarnya.
Abang Ghazali tidak ikut ke museum, hanya tinggal di hotel saja menyelesaikan pekerjaan, katanya.
Ya sudah, kami hanya ngobrol bersama Mas Dwi Cahyono, pemilik museum Panji, dan Mbak Ratna Arya. Tidak lama kemudian datanglah Pak Lulut, kolektor naskah kuno. Tiba-tiba hujan deras. Sedemikian derasnya sampai tampias ke areal Kopo Belik, tempat kami berbincang. Sebuah pesan singkat masuk, “Posisi sebenarnya sudah cukup dekat. Tp terjebak hujan deras. Saya ngiyup,” tulis jurnalis Neddy, yang juga keponakan Wardiman Djojonegoro.
Pesan yang lain datang dari Abdul Malik, “Mohon ijin telat.” Sementara M. Dwi Cahyono, arkeolog, katanya baru berangkat.
Hujan deras terus berlangsung, lebih dari satu jam, sampai aliran listrik padam, hingga beralih ke genset. Kami beranggapan, teman-teman yang diundang pasti batal hadir karena terhalang hujan. Apalagi, melihat situasinya, hujan ini merata. Bukan hanya di kawasan Tumpang, kota Malang mungkin terendam banjir.
“Ngapunten, tampaknya saya izin belum bisa gabung, nanti jam 3 sdh ditunggu tamu di rumah…. kalau ini nggak hujan sakjane bisa mampir sebentar,” ujar Neddy dalam pesan WA-nya.

Sekitar pukul 14.30, Hujan masih belum reda sepenuhnya, Mas Dwi Cahyono Inggil menawari mengantar Bu Noriah kembali ke hotel, mengingat kondisi fisik beliau yang nampak kelelahan. Ternyata baru beberapa menit ada telepon masuk. Pak Lulut mengirimkan foto dan mengabari bahwa mas M. Dwi Cahyono barusan hadir. Waduh, sudah terlanjur. Kami bertiga langsung menuju hotel tempat Bu Noriah menginap, mengobrol sejenak bersama Abang Ghazali, dan saya pun berpamitan langsung kembali ke Surabaya diantar Mas Dwi ke stasiun agar mudah mendapatkan angkot ke terminal Arjosari.
Dalam perjalanan, sebuah pesan dan foto masuk ke gawai saya, Malik dan Pak Benny dari Rumah Budaya Malang baru saja tiba di Museum Panji. Waduh, sayang sekali.

Buat teman-teman yang sudah kadung hadir dan gagal bertemu Bu Noriah, dengan tulus ikhlas saya menyampaikan permohonan maaf yaa. Saya merasa bersalah karena sayalah yang mengundang hadir di acara Bincang-bincang santai ini.
Wah, kok ceritanya jadi panjang yaa.. Sudah ahh. Terima kasih Ibu dan juga Abang Ghazali. Eh kalau suaminya minta dipanggil Abang, tentu istrinya saya panggil Kakak. Umur saya terpaut 15 tahun dengan Bu Noriah. Eh lha kok supir Go Car mengira kami suami istri. Waduhhh. (*)
Namanya Noriah Mohammed (82 tahun). Saya kenal perempuan asal Malaysia ini tahun 2018 ketika sama-sama menjadi narasumber seminar dalam kaitan Festival Internasional Panji di Jakarta. Sejak itu kami sering kontak-kontakan, bukan hanya via WA namun pakar sastra Melayu ini seringkali telepon langsung hanya sekadar menanyakan kabar. Perempuan keturunan Kebumen Jawa Tengah ini pernah juga saya…