Bulan Bung Karno, Hujan Bulan Juni, dan Vivere Pericoloso
Catatan Henri Nurcahyo
BULAN Juni memang istimewa. Tanggal 1 ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila, berdasarkan pidato Bung Karno. Tanggal 6 Juni Sukarno lahir dengan nama Kusno, dan 21 Juni proklamator RI itu meninggal dunia. Maka bulan Juni adalah Bulan Bung Karno. Tapi ingat, Sapardi Djoko Damono juga menulis puisi yang ikonik: Hujan Bulan Juni.
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon yang berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Hujan yang menahan rintiknya adalah simbol ketabahan Bung Karno di akhir hayatnya. Beliau memilih diam, menahan diri, dan mengalah demi mencegah perang saudara (darah tertumpah sesama bangsa Indonesia). “Rintik rindunya kepada pohon yang berbunga” adalah kerinduan mendalam Bung Karno kepada rakyat dan tanah air yang sangat dicintainya, yang terpaksa ia pendam hingga embusan napas terakhir.
Merumuskan dasar negara untuk bangsa yang seberagam Indonesia membutuhkan kebijaksanaan kosmik. Bung Karno menghapus segala “keraguan” (jejak kaki yang ragu-ragu), mengatasi perdebatan sengit, dan dengan bijak menyatukan ego berbagai golongan menjadi satu falsafah tunggal: Pancasila.
Tubuh biologis Bung Karno bisa saja tiada, dan namanya sempat coba “dihapus” dari sejarah oleh rezim Soeharto (dibiarkannya yang tak terucapkan). Namun, gagasan, ajaran, dan heroisme Bung Karno sudah terlanjur “diserap oleh akar pohon”—artinya, pemikiran Bung Karno telah menyatu dengan tanah, air, dan sanubari rakyat Indonesia. Gagasan itu tidak mati, melainkan menjadi nutrisi yang terus menghidupkan nasionalisme generasi hari ini.
Secara hukum alam, Juni berada dalam musim kemarau. Ketika Sapardi Djoko Damono menulis bait-bait ikoniknya, publik sempat menyangsikan: Mana ada hujan di bulan Juni? Juni adalah waktu bagi tanah untuk merekah dan langit untuk telanjang tanpa awan. Namun di sanalah letak magisnya sastra; Sapardi sengaja menghadirkan “hujan” sebagai sebuah anomali, sebuah ketidakmungkinan yang memaksakan diri untuk tabah menantang takdir musim.
Uniknya, waktu membuktikan bahwa paradoks itu kini nyata. Di bulan Juni hari ini, hujan kadang masih turun membasahi bumi, mendobrak batasan iklim konvensional.

Vivere Pericoloso
Maka menyelenggarakan pameran lukisan dengan objek Bung Karno di bulan Juni adalah bentuk perayaan terhadap manusia-manusia yang berani melawan arus zaman. Jika hujan di bulan Juni adalah anomali alam yang mendobrak pakem musim, maka Bung Karno adalah anomali sejarah yang mendobrak kemapanan kolonialisme. Apalagi, tema pameran ini adalah Vivere Pericoloso.
Semboyan “Vivere Pericoloso” (atau teks lengkapnya yang sering diucapkan Bung Karno: Siamo di Ngali, Vivere Pericoloso) adalah salah satu metafora politik paling membakar yang diadopsi oleh Bung Karno untuk menggambarkan kondisi revolusi Indonesia. Secara harfiah, kalimat ini berasal dari bahasa Italia, vivere pericolosamente, yang berarti “hidup menyerempet bahaya” atau “hidup dalam bahaya”. Bung Karno meminjam istilah ini dengan sedikit modifikasi lidah Indonesia (pericoloso).
Bung Karno menyampaikan semboyan ini sebagai judul pidato kenegaraan pada HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-19, tanggal 17 Agustus 1964. Ketika Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia, keluar dari keanggotaan PBB, dan saat itu negeri ini sedang dilanda inflasi tinggi, tekanan dari blok Barat, dan polarisasi politik dalam negeri antara militer, PKI, dan kelompok agama sedang sangat tajam.
Dalam situasi yang terjepit dan penuh ancaman dari luar maupun dalam itulah, Bung Karno justru menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh takut. Kita harus berani “menyerempet bahaya” demi mempertahankan kedaulatan mutlak.
Karena itu, menjadi seniman bertipe Vivere Pericoloso berarti berani mendobrak estetika konvensional, tidak sekadar melukis tiruan pemandangan yang aman dan laku di pasar, tetapi berani menyuarakan kebenaran, menangkap gejolak zaman, dan menampilkan sosok Bung Karno yang provokatif, hidup, dan mendebarkan di atas kanvas.
Mendobrak estetika konvensional, pameran kali ini menolak replikasi visual yang klise. Kita (mungkin) tidak akan menemukan figur verbal Bung Karno layaknya foto poster yang jamak dijumpai di lapak kaki lima. Para perupa membawa kita melampaui mitos, mengetuk ruang-ruang intim sang proklamator sebagai manusia biasa: sosok yang barangkali sedang santai menyalakan sigaret, atau menikmati secangkir kopi di bawah keteduhan pohon tanpa sekat pakaian formal. Di titik ini, Bung Karno dihadirkan sebagai manusia yang lahir dari rahim tradisi—seorang anak yang takzim memuliakan ibunya, menghidupkan falsafah Jawa bahwa ibu adalah swarga katon, surga yang kasatmata di bumi.
Lebih jauh lagi, pameran ini menantang arus dengan menerjemahkan ajaran Putra Sang Fajar tanpa harus memajang raganya. Bung Karno hadir melalui substansi pemikiran. Ia mengejawantah lewat sosok Semar—lambang kebijaksanaan, kejujuran, dan suara jelata yang mengakar kuat pada kearifan lokal Nusantara. Bahkan, keberanian itu memuncak pada kanvas-kanvas nonfiguratif yang abstrak; seakan merekam metamorfosis sebuah dinding usang yang bertransformasi lewat ledakan warna, menyimbolkan spirit perubahan dari kekusaman menuju keindahan. Visualisasi ini kian dinamis ketika ruang dua dimensi didobrak oleh instalasi tiga dimensi, lengkap dengan detak konstan bandul jam dinding yang bergerak, menegaskan bahwa ideologi Bung Karno tidak pernah mandek, melainkan terus berdenyut menantang waktu.
Pada akhirnya, pameran ini adalah ruang di mana kontras-kontras besar itu melebur jadi satu. Di bulan Juni yang sarat takdir ini, kita menyaksikan bagaimana ketabahan sunyi selembut “Hujan Bulan Juni” bersanding karib dengan keberanian radikal sekeras Vivere Pericoloso. Melalui kanvas-kanvas yang menolak patuh pada wujud verbal Bung Karno—baik yang mewujud lewat kearifan Semar, ledakan warna abstrak, maupun detak konstan bandul jam tiga dimensi—kita disadarkan akan satu hal: Bung Karno tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Jasad biologisnya mungkin telah berpulang, namun apinya telah diserap oleh akar kebudayaan kita.
Selamat menikmati pameran ini; selamat masuk ke dalam ruang di mana raga sang Proklamator menguap, dan yang tersisa hanyalah ruh, gagasan, serta keberanian yang terus bergerak menantang waktu. (*)
Henri Nurcahyo, penerima Livetime Achievement Award 2026 – Surabaya Art Prize – Orasis Art Space.
(Tulisan ini adalah pengantar pameran Vivere Pericoloso di Galeri Dewan Kesenian Surabaya, 6 – 19 Juni 2026)
Catatan Henri Nurcahyo BULAN Juni memang istimewa. Tanggal 1 ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila, berdasarkan pidato Bung Karno. Tanggal 6 Juni Sukarno lahir dengan nama Kusno, dan 21 Juni proklamator RI itu meninggal dunia. Maka bulan Juni adalah Bulan Bung Karno. Tapi ingat, Sapardi Djoko Damono juga menulis puisi yang ikonik: Hujan Bulan Juni. tak…