Sastrawan adalah Cita-cita Amang Rahman

Catatan Henri Nurcahyo

MESKI lebih dikenal sebagai pelukis, perjalanan kesenian Amang Rahman sesungguhnya bermula dari sastra. Sejak masa mudanya Amang memiliki obsesi menjadi sastrawan. Ia rela menjadi pesuruh di kantor penerbitan sebuah majalah (tahun 1952) supaya bisa bersama Toha Mochtar dan Trisnoyuwono dalam satu kamar kontrakan. Pergaulan intens bersama dua sastrawan itu bagi Amang ibarat masuk dalam kamp petinju, karena setiap malam dia bisa belajar serius mengenai sastra.

Pada tahun itulah keputusannya menjadi seniman sudah bulat. Hijrahnya ke Jakarta, sudah disertai dengan suatu keyakinan untuk belajar menjadi seniman. Perkenalannya dengan Toha Mochtar adalah pintu gerbang memasuki dunia sastra yang memang menjadi minatnya sejak kecil. Padahal keluarga Amang adalah pedagang. Ketika memutuskan menjadi seniman itu, keluarganya tentu sangat menentangnya. Mereka berharap Amang juga meneruskan pekerjaan dalam dunia dagang. Apalagi adik-adiknya waktu itu sudah menjadi orang yang dianggap sukses oleh keluarganya.

Sampai dengan usia 30 tahun, Amang mengaku belum mendapatan pekerjaan yang tetap, sementara adik-adiknya sudah menjadi orang yang dinilai sukses. Amang pernah mencoba bekerja pada perusahaan milik familinya, ternyata hanya bertahan tiga bulan. Ia tidak kerasan berada di tengah kuli-kuli dan para pekerja yang dianggapnya tidak memahami dunianya. Lingkungan kerjanya tidak cocok bagi dirinya, karena itu Amang selalu membawa buku-buku ketika bekerja dan dibacanya menyendiri. Namun demikian selalu diingat nasehat ayahnya, bahwa orang harus bekerja minimal untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Amang pernah mengisahkan pada seorang mahasiswa yang menulis skripsi tentang dirinya, bahwa ketika tahun 1952 itu, Amang Rahman dengan suka rela bekerja di penerbitan majalah Ria. Waktu itu sastrawan Toha Mochtar menjadi penangungjawab cerita bersambung. Amang yang tidak mempunyai pendidikan formal ini kemudian menjadi pesuruh di kantor tersebut. Apa yang dikerjakannya adalah mulai dari mengantarkan naskah ke percetakan sampai menyediakan kopi. Menurut Amang, tidaklah menjadi soal dirinya dipekerjakan sebagai kurir atau tukang membawakan kopi, yang penting dirinya telah masuk ke dalam lingkungan para sastrawan, dan hal itu sangat membanggakan.

Seusai bekerja, Amang pulang ke rumah kontrakan yang ditinggalinya bersama dengan Toha Mochtar dan Trisno Yuwono. Mereka bertiga seringkali pindah-pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrak yang lain. Namun justu di rumah sempit itulah yang betul-betul menjadi kawah candradimuka bagi seorang Amang Rahman. Malam-malam dalam rumah itu selalu penuh dengan diskusi tentang kesusasteraan sehingga Amang merasa mantap telah berada di tempat yang betul untuk belajar sastra. Pagi harinya, Amang harus berlekas-lekas mengendarai sepeda menuju Jalan Merdeka Barat, tempat kantornya itu. Majalah Ria sendiri pada akhirnya bangkrut karena kesalahan manajemen para pengelola yang tak bisa menjualnya.

Pengalaman bekerja di sebuah penerbitan itulah yang membuat Amang merasa akrab dengan tulis tulis menulis. Dengan bangga dia ceritakan bagaimana waktu itu dia juga melaksanakan tugas sebagai korektor, mengoreksi pekerjaan wartawan dari segi huruf-hurufnya. Waktu itu huruf-huruf harus ditata satu demi satu dalam balok-balok kecil, kemudian diikat dengan karet, dan distempelkan ke cetakan.

Tetapi kebiasaan membaca buku itu ternyata justru berasal dari ayahnya yang pedagang itu. Sejak kecil ayahnya memang menanamkan kegemaran membaca. Amang kecil suka sekali berada sendirian di perpustakaan Balai Pustaka dekat rumahnya. Hal ini tentu berbeda dengan teman-teman sebayanya, meskipun Amang juga menyukai bermain sepakbola dan rajin menonton pertandingan sepakbola (meski lewat teve) hingga masa tuanya. Amang sendiri mengaku terheran-heran mengapa teman-temannya lebih asyik bermain ketimbang menenggelamkan diri membaca buku di perpustakaan di kampung dan dikelola oleh Balai Pustaka itu. Padahal, katanya, banyak juga tersedia buku-buku dalam bahasa Indonesia.

Buku-buku dagangan ayahnya dibacanya lebih dulu sebelum diperdagangkan, termasuk buku-buku berbahasa Arab yang dipahami lewat cara belajar dari ayahnya. Pada saat menemani ayahnya dalam perjalanan berdagang, Amang tidak pernah lupa membawa buku-bukunya, yang berbahasa Arab dan ditulis dalam huruf Arab. Kalau ada kata-kata yang sulit, Amang menanyakannya pada ayahnya dan kakaknya yang pandai berbahasa Arab Sedemikian besar peranan buku-buku dan perpustakaan dalam pembentukan intelektualitas dalam diri Amang, sampai-sampai dia nekat berhenti sekolah hanya sampai SD (Sekolah Rakyat, waktu itu).

Amang memutuskan untuk belajar sendiri dari buku, membaca di perpustakaan dan bertanya kepada siapa saja dan bahkan juga bertanya kepada apa saja. Kebiasaan ini masih terus berlanjut hingga masa dewasanya.

Amang memang seorang kutu buku, sejak masih amat muda, masih kecil. Dia betul-betul bersekolah dengan caranya sendiri. la banyak membaca buku sendiri, belajar bahasa Inggris dan Arab sendiri, yang dikuasainya dengan caranya sendiri. Dan satu hal yang merupakan cirinya dalam membaca, dia selalu melahap kata demi kata secara seksama, sehingga memang membutuhkan waktu yang lebih lama kalau hanya sekadar untuk memahami isinya belaka. Tapi belakangan, kalau sebuah novel dirasa tidak menarik pada lembar-lembar pertama, iapun mencampakkannya begitu saja di rak buku.

Kepada siapa saja, ketika ditanya dari mana Amang belajar apa yang banyak diketahuinya, selalu dijawab bahwa semuanya itu didapatnya dengan cara luru-luru (memungut di mana-mana). Semangatnya yang luar biasa untuk membaca dan belajar sendiri itu seolah mendapatkan pelabuhan yang pas ketika dia merasa seperti kapal yang terdampar di Jakarta tahun 1950-60-an. Bahkan dengan suka hati Amang mau menjadi tenaga sukarela di lingkungan Taman Siswa yang dipimpin oleh Muhammad Said (alm) yang legendaris dalam dunia pendidikan di Indonesia itu. Amang amat mengagumi sosok Pak Said yang sederhana itu. Banyak kenangan bermakna yang dilalui Amang bersamanya.

Dalam kesempatan tertentu, ketika ada kawan bicaranya yang menyinggung-nyinggung soal Taman Siswa, maka tanpa menunjukkan kesombongan Amang dengan bangga menyebut dirinya juga pemah menjadi warga Taman Siswa di Jalan Garuda 25 Jakarta. Pada masa-masa itu Amang juga melebar dalam pergaulan dengan kalangan seniman Senen, baik seangkatan maupun yang lebih senior dari dirinya. Pada masa-masa ini Amang sudah menjalin keakraban dengan pelukis Sudjojono, meski waktu itu Amang belum mulai melukis, melainkan masih lebih tertarik pada dunia sastra. Waktu itu pula dia sempat berkenalan dengan Misbach Yusa Biran, Nashar, Ajip Rosidi dan Sjuman Djaja.

Konon Amang juga pemah menulis cerpen dan novel, yang entah di mana lagi dokumennya. Katanya, tema-tema yang ditulisnya berupa kisah percintaan yang gagal. Namun pekerjaan menulis novel ini lama kelamaan mulai terasa membosankan baginya, terlebih lagi butuh energi yang banyak untuk mengetik. Belum lagi masalah-masalah dengan pihak penerbit yang tidak mudah mencari penerbit yang bersedia mencetak dan memasarkan suatu novel.

Metode otodidak itulah sebagai cara belajar Amang Rahman menjadikan dirinya merasa akrab dengan seorang H.B. Jassin dan menganggap sebagai gurunya. Sampai-sampai ketika berpameran lukisan di Jakarta (1990) dia meminta kesediaan Paus Sastra itu untuk mem-bukanya. Jassin tentu heran, mengira Amang pernah kuliah di Fakultas Sastra UI ketika dia mengatakan sebagai murid Jassin. Pameran lukisannya yang dibuka oleh sastrawan H.B. Jassin itu merupakan monumen tersendiri yang sangat berarti dalam perjalanan berkesenian Amang Rahman. Kebanggaan seperti itu jauh mengalahkan dibanding kalau saja pameran lukisannya dibuka oleh pejabat tinggi atau selebritas lainnya.

Dalam sambutannnya, H.B. Jassin antara lain mengatakan, bahwa letak keistimewaan Amang Rahman mungkin karena dia tidak mempunyai pendidikan formal yang tinggi. Sebagai seorang kreatif yang suka memperhatikan alam dan kehidupan, ia sampai pada hal-hal yang asli, yang mungkin tidak akan ditemukannya sekiranya ia berpegang pada patokan-patokan yang sudah jadi. Tapi walaupun Amang tidak mendapat pendidikan formal, bukan berarti bahwa ia tidak belajar. Ia dengan intensif membaca buku-buku yang sampai ke tangannya, buku-buku sastra, agama dan kitab suci. Ia belajar dari pengalaman dan diskusi-diskusi dengan kawan, yang tidak lepas dari pemikiran dan renungan untuk sampai pada esensi dan nilai-nilai kehidupan.

Pada bagian lain Jassin mengatakan kecuali sebagai pelukis, Amang mempunyai bakat sebagai penyair, ia pun belajar musik dan berteater, menunjukkan kepekaan dalam estetika berbagai bidang. Tapi yang tidak kurang menentukan dalam karyanya adalah intensitas dalam pengalaman dan penghayatan, intensitas dalam pemikiran dan pemerasaan, intensitas dalam kekaryaan dan didukung oleh jiwa yang religius ia sampai pada yang tidak terlukiskan, tapi hanya terasakan dan terkonsepsikan.

Dalam kata akhir sambutannya, Jassin membacakan sajak Amang Rahman pada lukisan “Berita Akhir Tahun” mengenang kembang-kembang bangsa: Frans Haryadi, Mus Mualim, Wahyu Sihombing, Sudjatmoko, Simatupang dan sebagai peringatan kepada dirinya sendiri:

Di batu-batu yang terjal

Kujumpa muara ajal

Kalau kau datang,

Datanglah lewat depan,

Kuucapkan ‘Salam”

Lalu aku akan terbaring

1991

Menjadi pelukis, sebetulnya tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam dirinya. Justru menjadi sastrawan itulah yang sejak masih kecil sudah tersimpan angan di kepalanya. Karena itu diantara kawan-kawan pelukis sebayanya, Amang Rahman tergolong terlambat terjun serius dalam seni lukis atau seni rupa. Bahkan, ketika kemudian Amang mulai melukis, oleh teman-temannya lukisan Amang masih dipandangnya sebagai “puisi dalam bentuk lukisan”. Artinya, apa yang dituangkan Amang dalam kanvas itu sebetulnya lebih cocok ditulis menjadi puisi ketimbang divisualkan menjadi lukisan.

Bagaimana kaitan antara puisi dan lukisan ini nantinya dapat ditelusuri dari berbagai lukisan Amang yang berkali-kali seperti membaca puisi dalam bentuk visual. Beberapa idiom dalam puisinya (misalnya kata bulan) ternyata juga menjadi simbol yang sering diangkat ke dalam kanvasnya. Makna bulan itu sendiri sedemikian mistis bagi Amang, sebagaimana yang dituliskan dalam puisi dan juga dilukiskan dalam lukisannya. Juga idiom tentang anak, kembang, langit, dan terutama tentang idiom mati. Sedemikian banyak Amang mencomot kata mati dalam puisi-puisinya, sampai-sampai dalam sebuah puisi tahun 1972 (Tentang Diri) seolah-olah merupakan sebuah skenario terhadap kematiannya sendiri.

Puisi-puisi tentang kematian itulah yang nampaknya menjadi obsesinya, dan kemudian terus berlanjut dalam lukisan-lukisannya. Ada semacam suasana mencekam yang terbangun dalam puisi-puisi tersebut, ada hening yang tiba-tiba menyergap, namun begitu menyadari bahwa yang menulis adalah seorang Amang Rahman, harus diakui bahwa tiba-tiba menyelinap nuansa humor yang menyertainya. Kematian menjadi sesuatu yang tak bisa ditolak, pasti terjadi pada setiap mahluk hidup, sesuatu yang akan menghentikan semua proses kehidupan, menguburkan segala arogansi dan kecongkakan manusia, namun kematian adalah juga conditio sine quanon, sebuah keniscayaan yang tak bisa ditolak.

Dalam buku Kumpulan Puisi 25 Penyair Surabaya (DKS, 1975), Amang Rahman menuliskan konsep kreatifnya sebagai berikut:

dalam penangkapan obyek dan penggarapannya aku ingin mengemukakan dasar yang paling sederhana dari kemanusiaan itu sendiri. Dasar yang paling bawah, dasar elementer. Aku berpendapat dasar yang paling sederhana tersebut, ialah apa yang paling akrab dengannya, sedang apa yang paling akrab ialah perasaan saling keterikatan satu sama lain, keterikatan seseorang dengan ibu bapanya dan anak istrinya, di samping alam sekitar dan sejarahnya. Aku yakin, Tak seorangpun yang hadir di dunia ini tanpa proses ibu-bapa, dan tak seorangpun kukira secara naluriah tidak mengharapkan keturunan, sebab menyadari bahwa ia sendiri tidak kekal adanya

Dan akhirnya, ketika Amang tidak lagi menulis puisi, maka pada lukisan-lukisannya itulah dapat dinikmati bagaimana Amang berpuisi. Apa boleh buat, pada lukisan itu pula puisi-puisi Amang masih terabadikan dan terus berngiang meski disaksikan berulang-ulang. (*)

NB: Artikel ini dimuat sebagai epilog dalam buku “Sajak Putih H. Amang Rahman Jubair”, penerbit Iqra Semesta Jombang, cetakan kedua, 2026.

Puisi-puisi ini akan dibacakan dalam acara “Open Mic Poetry Merayakan Sajak Putih” di Orasis ArtSpace, Surabaya, Sabtu (18/4) pukul 15.00-18.00.

Besok Minggunya (19/4) didiskusikan dalam acara “Merayakan Sajak Putih In Conversation with Henri Nurcahyo”, pukul 15.30-18.00

Contact person: Zahwa Orasis: +62 851-8935-0151

Catatan Henri Nurcahyo MESKI lebih dikenal sebagai pelukis, perjalanan kesenian Amang Rahman sesungguhnya bermula dari sastra. Sejak masa mudanya Amang memiliki obsesi menjadi sastrawan. Ia rela menjadi pesuruh di kantor penerbitan sebuah majalah (tahun 1952) supaya bisa bersama Toha Mochtar dan Trisnoyuwono dalam satu kamar kontrakan. Pergaulan intens bersama dua sastrawan itu bagi Amang ibarat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *