Estetika Rakyat dari Ludruk, Pelajaran Artistik Moelyono
Catatan Henri Nurcahyo
ESTETIKA rakyat tidak selalu lahir dari teori seni, ruang akademis, atau eksperimen artistik di dalam studio. Ludruk memperlihatkan bahwa estetika dapat tumbuh dari pengalaman sehari-hari, dari panggung sederhana, guyonan dan plesetan para pemainnya, kecerdikan berbahasa, hingga kemampuan masyarakat menertawakan keadaan yang sesungguhnya getir.
Keindahan dalam seni pertunjukan rakyat tersebut tidak selalu dibangun melalui keindahan formal atau kecanggihan teknik, melainkan justru melalui spontanitas, kelakar, dan kepekaan membaca kehidupan. Pelajaran artistik inilah yang ditemukan Moelyono melalui keterlibatannya dengan kelompok Ludruk Budhi Wijaya dari Desa Ketapang Kuning, Jombang, Jawa Timur.
Sejak 2017, ia intens berkolaborasi dengan kelompok ludruk tersebut. Kelompok ludruk ini tidak hanya memainkan cerita tradisional, tetapi juga lakon-lakon yang mengangkat perlawanan rakyat. Melalui keterlibatan tersebut, Moelyono menemukan cara masyarakat mengolah pengalaman hidup menjadi ekspresi artistik.
Kolaborasi Moelyono dengan Budhi Wijaya membuka kembali ruang dialog mengenai persoalan sosial di pedesaan. Melalui lakon-lakon perlawanan, masyarakat diajak menengok konflik yang berakar pada persoalan tanah, sejarah industri gula sejak zaman kolonial, serta ingatan kelam tragedi 1965.
Interaksi yang intensif Moel dengan komunitas ludruk itu memperluas pemahamannya tentang seni. Ia menyadari bahwa estetika tidak harus dibangun melalui keindahan formal, kecanggihan teknik, atau teori yang rumit. Estetika juga dapat lahir dari pengalaman konkret masyarakat, dari bahasa sehari-hari, dan dari kemampuan rakyat membaca situasi sosial di sekelilingnya.
Hubungan Moelyono dengan Ludruk Budhi Wijaya juga membawanya ke ruang pamer seni rupa di Yogyakarta. Pada 20 Mei 2017, ia menggelar pameran bertajuk “Amok Tanah Jawa” di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta, berkolaborasi dengan Yusuf Muntaha. Berlangsung hingga 20 Juni 2017, pameran ini merupakan proyek penelusuran Moelyono terhadap sejarah dan persebaran seni pertunjukan di Jawa Timur, khususnya ludruk. Melalui proyek tersebut, Moelyono berupaya mengangkat kembali narasi-narasi subversif yang hidup dalam kesenian rakyat, sekaligus mendiskusikannya bersama komunitas dan masyarakat.
Dalam pembukaan pameran tersebut, Moelyono mengundang kelompok ludruk pimpinan Didik Purwanto itu tampil. Bagi Moelyono, kehadiran mereka bukan sekadar hiburan pembuka sebuah pameran seni rupa. Ia ingin mempertemukan para pelaku kesenian rakyat dengan lingkungan seni rupa sekaligus memperkenalkan Didik kepada Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan ketika itu.
Langkah tersebut ternyata membawa dampak lebih jauh. Setelah menyaksikan dan mendengar penjelasan mengenai kehidupan kelompok ludruk tersebut, Dirjen Kebudayaan mendorong Moelyono dan Didik untuk mengembangkan kegiatan ludruk dalam skala yang lebih luas. Moelyono kemudian membantu menyusun proposal dan anggaran kegiatan, hingga memperoleh dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dari sinilah Festival Ludruk Desa mulai diselenggarakan pada 2018 dan berlanjut pada 2019.
Dengan demikian, “Amok Tanah Jawa” bukan hanya menjadi ruang pertemuan antara seni rupa kontemporer dan tradisi pertunjukan rakyat. Pameran itu juga menjadi titik penting yang mempertemukan praktik kesenian dengan upaya membangun keberlanjutan kehidupan kelompok ludruk di desa.
Selain itu Moel juga membawanya ke Sendang Made, sebuah situs budaya di Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. Terletak di kawasan lereng Gunung Pucangan, Sendang Made dikenal melalui tujuh mata air atau sendang yang masing-masing memiliki nama dan cerita tersendiri. Menurut legenda yang hidup di masyarakat, kawasan ini berkaitan dengan pelarian Raja Airlangga bersama rombongannya. Air sendang pun dipercaya memiliki nilai spiritual dan menjadi bagian dari tradisi setempat.

Bagi kalangan seniman tradisional, Sendang Made bukan sekadar tempat wisata atau sumber air. Tempat ini juga menjadi ruang ritual sebelum seseorang tampil sebagai seniman. Dalam rangkaian Festival Ludruk Desa 2019, misalnya, masyarakat menyelenggarakan ritual dan arak-arakan sebelum pertunjukan. Para pemain ludruk transpuan membasuh wajah di sendang sebagai bagian dari ritual yang dimaknai untuk meneguhkan peran mereka sebagai seniman. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana kesenian rakyat berkelindan dengan kepercayaan lokal, identitas, dan penerimaan sosial.
Dalam perjalanannya, Moel tidak hanya melihat ludruk sebagai tontonan, tetapi juga sebagai ruang hidup masyarakat, tempat humor, solidaritas, dan pengalaman kelompok yang terpinggirkan memperoleh ekspresi. Sendang Made menjadi salah satu lanskap budaya yang memperlihatkan hubungan erat antara kesenian, ritual, dan kehidupan sehari-hari tersebut.
Pada 2025, Moel berkolaborasi dengan kelompok yang sama kembali tampil dalam pameran di Bentara Budaya Jakarta, kali ini dengan lakon tentang masyarakat yang menolak sawahnya dijadikan perkebunan tebu.
Pameran bertajuk “Moelyono & Seni Rupa Ludrukan Desa” tersebut berlangsung pada 11–19 Juli 2025. Pameran ini menandai perjalanan kolaborasi Moelyono dengan Ludruk Budhi Wijaya yang telah berlangsung selama delapan tahun. Kelompok ludruk tersebut bukan sekadar menjadi objek pengamatan atau inspirasi bagi karya-karya Moelyono, melainkan terlibat langsung dalam proses penciptaan dan penyajian karya.
Salah satu bagian penting dari pameran tersebut adalah pertunjukan pada 11 Juli 2025 membawakan lakon “Geger Pabrik Gula Gempol Kerep,” yang mengangkat perlawanan petani dan buruh terhadap kekuasaan perkebunan serta pabrik gula pada masa kolonial. Kisah tersebut merujuk pada konflik agraria dan perlawanan buruh perkebunan di kawasan Gempol Kerep, Jombang, sekitar 1920. Melalui lakon ini, ludruk kembali menjalankan fungsi sosialnya: bukan hanya sebagai tontonan yang menghibur, tetapi juga sebagai medium untuk menghidupkan ingatan sejarah dan menyuarakan ketidakadilan.
Moelyono kemudian menerjemahkan semangat perlawanan tersebut ke dalam karya seni rupa. Sembilan lukisan ditampilkan dalam pameran, termasuk karya “Geger Pabrik Gula” (revisi 2025), yang menghadirkan kembali adegan dan karakter perlawanan melalui bahasa visual. Menariknya, properti dan tata panggung pertunjukan tidak sekadar digunakan selama pementasan, tetapi juga dipertahankan sebagai bagian dari instalasi pameran. Dengan demikian, batas antara panggung ludruk dan ruang pamer seni rupa menjadi cair. Para pemain, properti, cerita, dan lukisan hadir dalam satu kesatuan pengalaman artistik.
Pameran ini juga dilengkapi diskusi bertajuk: “Moelyono, Ludruk, dan Perlawanan Rakyat Pedesaan,” yang mempertemukan Moelyono, Didik Purwanto, dan sejumlah pembicara lainnya untuk membicarakan hubungan kesenian rakyat dengan sejarah serta kehidupan masyarakat desa. Bagi Moelyono, ludruk menyimpan ingatan kolektif tentang ketimpangan sosial, konflik agraria, dan perjuangan rakyat kecil. Nilai-nilai itulah yang kemudian digali dan diolah menjadi bagian dari praktik seni rupanya.
Mengutip sumber dari Bentara Budaya: Melalui kolaborasi ini, Moelyono mempertemukan seni rupa dengan seni pertunjukan rakyat. Ia tidak sekadar mengangkat ludruk sebagai objek estetika, tetapi menggali spirit perlawanan, egalitarianisme, dan kritik sosial yang terkandung di dalamnya. Pameran tersebut sekaligus menandai perjalanan delapan tahun kolaborasinya dengan Ludruk Budhi Wijaya, sejak 2017.
Perjalanan dari “Amok Tanah Jawa” pada 2017 hingga “Moelyono & Seni Rupa Ludrukan Desa” pada 2025 memperlihatkan perkembangan penting dalam pendekatan artistik Moelyono. Jika pada proyek pertama ia menelusuri sejarah dan persebaran seni pertunjukan di Jawa Timur, khususnya ludruk, maka pada pameran 2025 hubungan tersebut berkembang menjadi kolaborasi yang lebih menyatu. Ludruk tidak lagi sekadar menjadi tema atau objek representasi dalam karya seni rupa, melainkan hadir sebagai subjek yang memiliki suara, pengalaman, dan ingatan sejarahnya sendiri. Di sinilah Moelyono memperlihatkan bahwa seni rupa dapat keluar dari batas-batas galeri, berjumpa dengan kehidupan masyarakat, dan tumbuh bersama kesenian yang berakar dari tradisi rakyat.

Menemukan Estetika Rakyat
Dalam pandangan Moelyono, yang terjadi di panggung ludruk adalah bagaimana mereka memainkan plesetan, guyonan, untuk menertawakan diri sendiri. Dari situ dia baru sadar: “Ooh begini toh estetika rakyat,’” tutur perupa pelopor Seni Rupa Penyadaran ini.
Penemuan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam pameran tunggalnya bertajuk “Resisten” di Orasis Art Space Surabaya, yang berlangsung pada 28 Oktober–25 November 2026. Melalui beragam karya, mulai dari lukisan, drawing, grafis, hingga instalasi, alumnus ISI Yogyakarta ini menghadirkan kembali pengalaman panjangnya berinteraksi dengan masyarakat selama 4 dekade, membaca ketidakadilan, serta menemukan kemungkinan perlawanan melalui kesenian rakyat.
Bagi penerima Penghargaan Akademi Jakarta 2023 bersama Komunitas Taring Padi ini, ludruk bukan sekadar seni pertunjukan tradisional atau sumber inspirasi visual. Di dalamnya terdapat cara masyarakat mengolah pengalaman hidup menjadi ekspresi artistik. Humor, parikan, plesetan, dan sindiran menjadi perangkat untuk membalik makna, mengganggu kemapanan, sekaligus menyampaikan kritik terhadap kekuasaan.
Moelyono tidak sedang mengajari rakyat bagaimana berkesenian. Justru dari rakyat, melalui panggung ludruk, ia belajar kembali apa arti estetika. Salah satu sumber pembelajaran artistik Moelyono yang menarik justru bukan berasal dari ruang kuliah seni rupa atau galeri, melainkan panggung ludruk.
Dalam ludruk, nilai artistik justru sering muncul dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Bukan kemegahan bentuk, kerumitan teknik, atau landasan teori yang menentukan keindahannya, melainkan spontanitas tutur, permainan kata, humor, serta kecerdasan mengolah kenyataan pahit menjadi bahan tertawaan.
Moelyono mencontohkan parikan terkenal Cak Durasim: Pagupon omahe doro, melok Nippon tambah sengsoro. Sindiran terhadap pendudukan Jepang itu memperlihatkan bagaimana humor dapat menjadi senjata politik rakyat.
“Sekarang saya enggak tahu, ikut siapa tambah sengsara,” celetuknya, menarik sindiran tersebut ke dalam situasi masa kini.
Bahkan warna merah, yang dalam konteks tertentu dapat menjadi simbol sensitif secara politis, ia tanggapi dengan plesetan khas ludruk. “Lho, warna merah itu meniru warna KDMP di desa saya,” katanya.
Di balik kelakar itu terdapat cara kerja seni yang khas: membalik makna, mengganggu kemapanan, dan membuka kemungkinan pembacaan lain atas sesuatu yang dianggap biasa atau tabu.
“Bayangkan, pada usia saya sekarang ini baru menemukan nilai-nilai seperti itu. Jadi selama ini nilai-nilai seperti apakah yang ada di otak saya? Jangan-jangan ada hegemoni yang kuat di dalamnya,” ujarnya.
Pengalaman tersebut sekaligus mengoreksi anggapan bahwa seniman selalu datang ke tengah masyarakat sebagai orang yang membawa pengetahuan. Dalam praktik Moelyono, seniman justru harus bersedia belajar, mendengarkan, dan membiarkan cara pandangnya sendiri dipertanyakan.
Ia mengingat pengalaman ketika aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ketika citranya tidak seperti yang sekarang. Sebelum bekerja bersama warga, ia harus menjalani live-in, tinggal di desa minimal selama 3 bulan, serta mengikuti code of conduct sebagai bagian dari proses keterlibatan. Pengalaman itu dijalaninya antara lain ketika masuk ke Desa Brumbun, Tulungagung, pada 1980-an, saat Orde Baru masih berkuasa.
“Coba kalau misalnya saya tidak terlibat dengan mereka, saya tidak akan mendapatkan nilai-nilai estetika seperti itu. Jadi saya memaknai bahwa keterlibatan itu penting,” katanya.

Bagi Moelyono, keterlibatan bukan sekadar metode untuk memperoleh bahan karya. Di sanalah berlangsung perjumpaan yang memungkinkan seniman dan masyarakat sama-sama memeriksa kembali pengetahuan, nilai, serta struktur kekuasaan yang selama ini dianggap wajar.
Meski melampaui perjalanan panjang selama puluhan tahun, dalam pameran kali ini Moel memperlihatkan obsesinya terhadap ludruk. Karya berjudul “Kembange Ludruk” memperlihatkan tiga sosok pavestri (penari atau pemain perempuan dalam pertunjukan ludruk) bertelanjang dada. Dua sosok berdiri di sisi kiri dengan membawa buntalan kain dan kantong belanja, sementara satu sosok lainnya duduk di kursi sambil memangku seekor rusa yang tubuhnya tertancap empat anak panah sebagai simbol kerentanan, kekerasan, atau kehidupan yang menjadi sasaran berbagai kepentingan. Di bagian tengah lukisan, tampak sosok manusia yang seolah tertimbun tumpukan perangkat gamelan, dengan latar berupa panggung pertunjukan.

Lukisan ini seperti mengajak kita melihat sisi lain kehidupan ludruk. Bukan hanya sebagai tontonan rakyat yang penuh humor, tari, musik, dan hiburan, melainkan juga sebagai ruang kehidupan para pelakunya yang menyimpan persoalan, pergulatan, bahkan ironi sosial. Keindahan pertunjukan mungkin terlihat di atas panggung, tetapi kehidupan orang-orang yang menghidupkannya tidak selalu seindah itu.
Salah satu bentuk estetika rakyat yang menarik perhatiannya dalam pertunjukan ludruk tampak pada cara para pemain memvisualkan adegan seseorang menunggang kuda. Tidak diperlukan properti yang rumit ataupun boneka kuda berukuran besar. Seorang pemain cukup mengenakan lembaran kain yang menutupi tubuhnya, lalu berjalan dengan posisi membungkuk. Di bagian depan, disambungkan kepala kuda yang terbuat dari karton. Kedua tangannya memegang dua tongkat sebagai pengganti kaki depan kuda. Sementara itu, pemain lain naik di atas punggungnya, berperan sebagai penunggang kuda.
Sepintas, adegan ini tampak sebagai akal-akalan sederhana untuk menghadirkan sosok kuda dan penunggangnya di atas panggung. Namun, jika dicermati lebih jauh, ada kemungkinan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar representasi seekor binatang tunggangan. Adegan tersebut dapat dibaca sebagai metafora tentang eksploitasi manusia atas manusia lainnya. Ada satu tubuh yang harus merangkak, menanggung beban, dan mengerahkan seluruh tenaganya agar tubuh lain bisa duduk nyaman di atasnya. Yang satu menjadi penopang, sementara yang lain menjadi penikmat hasil tenaga orang yang menopangnya.
Di sinilah estetika rakyat menemukan kekuatannya. Dengan bahan seadanya, gerak tubuh, dan imajinasi kolektif, ludruk mampu menghadirkan gambaran sosial yang mudah dikenali penonton. Tidak perlu dialog panjang, uraian filosofis, atau penjelasan berbelit-belit. Relasi kuasa antara yang menanggung beban dan yang menikmati beban itu sudah tergambar secara visual.
Bahkan, ironi adegan tersebut menjadi semakin kuat karena penonton mungkin tertawa menyaksikannya. Kelucuan justru menjadi pintu masuk untuk menangkap sesuatu yang tidak selalu lucu dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah dalam kenyataan sosial, tidak sedikit orang yang harus memeras tenaga dan membungkukkan badan agar orang lain bisa duduk lebih tinggi? Persis gambaran “kuda manusia” itu.

Bagi seniman kelahiran 5 Agustus 1957 tersebut, tema ludruk menempati ruang penting dalam pameran ini. Moelyono menghadirkannya melalui beragam medium, mulai dari karya dua dimensi hingga instalasi yang menggambarkan suasana perkebunan tebu beserta persoalan eksploitasi yang menyertainya. Ludruk baginya bukan sekadar seni pertunjukan tradisional atau sumber inspirasi visual, melainkan ruang tempat masyarakat menyampaikan kritik, menyimpan ingatan, dan menertawakan kekuasaan melalui bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari panggung ludruk, Moelyono menemukan estetika rakyat yang tumbuh dari pengalaman konkret masyarakat, termasuk pengalaman menghadapi ketimpangan dan ketidakadilan.
Dengan demikian, estetika ludruk bukan semata-mata terletak pada keindahan gerak, kostum, atau kemampuan pemain menghibur penonton. Di dalam kesederhanaan bentuknya tersimpan kecerdasan artistik sekaligus daya kritik sosial. Ludruk tidak harus menyampaikan kritik dengan bahasa yang berat. Cukup dengan seorang pemain yang menjadi kuda dan seorang lainnya yang menungganginya, penonton sudah diajak melihat kembali kenyataan tentang ketimpangan, kekuasaan, dan eksploitasi manusia atas manusia.
Sebab, dalam estetika rakyat, sesuatu yang tampak sederhana di atas panggung bisa saja menyimpan kenyataan sosial yang jauh lebih rumit di luar panggung.
Moel nampaknya begitu terkesan dengan adegan tersebut sehingga berulang kali menghadirkannya dalam sejumlah karya. Selain muncul dalam karya drawing, juga terdapat pada lukisan berjudul “Remo Ludrukan” (acrylic, print on canvas, 2024). Karya ini memperlihatkan suasana pertunjukan ludruk dari sudut pandang panggung. (Bisa jadi bentuk pementasannya adalah teater arena sehingga penonton berada melingkati panggung).
Di bagian belakang pemain kendang, tampak para penonton duduk lesehan dan bergerombol, menyaksikan jalannya pertunjukan. Di antara para pemain, terlihat seorang penari travesti bertelanjang dada, sementara pemain lain berkostum prajurit Belanda memainkan instrumen perkusi. Pada sisi kanan lukisan, tampak adegan seorang prajurit Kompeni Belanda meniup terompet dari atas punggung “kuda manusia”.
Penggambaran tersebut bukan sekadar upaya Moel merekam suasana pertunjukan ludruk sebagai tontonan rakyat. Ia seperti ingin mengabadikan kekhasan bahasa visual ludruk, yang dengan perlengkapan sederhana mampu membangun dunia panggung yang imajinatif. Kehadiran prajurit kompeni Belanda di atas “kuda manusia”, misalnya, menghadirkan kembali metafora tentang relasi kuasa dan eksploitasi manusia atas manusia. Sementara itu, kerumunan penonton yang duduk lesehan mengingatkan kita bahwa ludruk tumbuh dari kehidupan rakyat, dimainkan di tengah rakyat, dan memperoleh maknanya melalui keterlibatan langsung masyarakat yang menjadi penontonnya. Dengan demikian, lukisan ini tidak hanya merekam sebuah pertunjukan, tetapi juga menyimpan jejak estetika, ingatan kolektif, dan kehidupan sosial yang melekat pada tradisi ludruk.
Lukisan lainnya, “Kontrol Mandor Tebu” (acrylic, print on canvas, 2025), kembali menghadirkan figur “kuda manusia”, tetapi kali ini dalam konteks perkebunan tebu. Tampak dua “kuda manusia” ditunggangi mandor bertopi laken dan mengenakan busana serba putih, sementara satu “kuda manusia” lainnya berjalan tanpa penunggang. Di bagian lain, sejumlah pemain berkostum prajurit tampak memainkan instrumen drumband. Latar belakang lukisan memperlihatkan hamparan kebun tebu, bangunan pabrik gula, gunung berapi yang sedang menyemburkan magma, serta sebuah pohon dengan tajuk yang terbakar.

Jika dicermati, komposisi ini seperti menyandingkan dua dunia: suasana perkebunan dan pabrik gula sebagai pusat kegiatan ekonomi kolonial, dengan figur-figur manusia yang diposisikan layaknya binatang tunggangan. Kehadiran para mandor di atas “kuda manusia” seolah menegaskan hirarki kekuasaan dalam sistem perkebunan, ketika sebagian orang memiliki kuasa untuk memerintah, sementara yang lain harus menanggung beban pekerjaan. Bahkan, gunung berapi yang menyemburkan magma dan pohon yang terbakar dapat dibaca sebagai isyarat tentang situasi yang penuh tekanan, konflik, dan ancaman. Dengan bahasa visual yang cenderung absurd dan teatrikal, Moel seperti mengajak penonton menengok kembali sejarah eksploitasi tenaga manusia dalam industri perkebunan tebu. Di balik kemeriahan kostum dan irama drumband, tersimpan gambaran tentang ketimpangan sosial yang tidak selalu tampak di permukaan.
Figur “kuda manusia” kembali dihadirkan dalam bentuk tiga dimensi dalam sebuah karya instalasi berjudul “Monumen Geger Pabrik Gula” (mixed-media installation, variable dimension, 2026). Kali ini, figur kuda beserta sosok manusia yang menungganginya sama-sama berwarna putih, diposisikan seolah melayang, menghadap dinding berwarna merah yang ditempeli sejumlah celurit. Di sekelilingnya, batang-batang tebu tampak menjulang dan menggantung dari langit-langit, sementara lantai dipenuhi tumpukan batang tebu kering yang berserakan. Di antara tumpukan itu, tergeletak dua sosok manusia bertopi petani yang tubuhnya dibuat dari susunan batang tebu. Pada bagian latar belakang, sebuah tayangan video memperlihatkan aktivitas para petani tebu di perkebunan.
Ada detail lain yang tak kalah menarik pada sisi kiri dinding merah. Sepasang pakaian berupa celana hitam dan kaus bergaris-garis merah-putih khas Madura digantung tanpa sosok manusia yang mengenakannya. Namun, pada bagian yang seharusnya menjadi kepala justru ditempelkan sepasang kaki manusia sebatas sedikit di atas mata kaki. Susunan yang ganjil ini menghadirkan kesan tubuh manusia yang tercerai-berai, seolah kehilangan keutuhan dan identitasnya.
Keseluruhan instalasi ini seperti menyusun kembali fragmen sejarah perkebunan tebu, dengan segala relasi kuasa dan eksploitasi yang menyertainya. Batang tebu bukan sekadar material pembentuk instalasi, melainkan juga penanda kehidupan para petani dan buruh yang tenaganya menopang industri gula. Figur penunggang kuda, celurit yang menempel di dinding merah, tubuh-tubuh yang tergeletak, serta pakaian tanpa pemilik menghadirkan suasana yang muram dan penuh ketegangan. Judul “Monumen Geger Pabrik Gula” pun seolah mengisyaratkan sebuah peristiwa pergolakan atau perlawanan yang meninggalkan jejak dalam ingatan kolektif masyarakat perkebunan. Dengan demikian, Moel tidak sedang sekadar membangun suasana perkebunan tebu dalam ruang galeri. Ia menghadirkan sebuah monumen ingatan tentang manusia-manusia yang tubuh dan kehidupannya pernah menjadi bagian dari mesin produksi industri gula.
Bagi Moelyono, seni partisipatoris tidak harus selalu hadir dalam bentuk kegiatan bersama yang berlangsung di tengah masyarakat. Pengalaman, dialog, dan persoalan yang muncul dari proses tersebut dapat diolah kembali menjadi karya seni rupa, tanpa kehilangan hubungan dengan konteks sosial yang melahirkannya.
Instalasi tersebut mengajak pengunjung melihat persoalan tanah bukan semata-mata sebagai sengketa kepemilikan, tetapi juga sebagai persoalan ingatan, kekuasaan, dan keberlanjutan hidup masyarakat. Di balik perubahan fungsi lahan, terdapat sejarah panjang relasi yang tidak selalu setara antara warga, penguasa, dan kepentingan ekonomi.
Pada karya yang lain: Tebu, arit, pabrik gula, mandor, lori, kepala kuda, seekor “macan manusia” digambarkan dalam karya berjudul “Arit di bawah Roda Lori Tebu” (Acrylic on Canvas, 2025). Lukisan ini bukan semata-mata bercerita tentang aktivitas pengangkutan tebu menuju pabrik gula. Di balik lori, kuda, arit, dan sosok “macan-manusia”, tersimpan kritik terhadap sistem eksploitasi yang menempatkan manusia sebagai alat produksi. Kuda menjadi metafora tenaga yang dikendalikan, “macan-manusia” menggambarkan kekuasaan yang predatoris, sementara roda lori melambangkan mesin ekonomi yang terus berputar tanpa peduli siapa yang menjadi korban. Sebuah sindiran bahwa dalam sistem yang tidak adil, manusia bisa kehilangan kemanusiaannya, sementara mereka yang bekerja justru harus menanggung akibatnya.
Pameran yang dikuratori Wicaksono Adi itu merekam pergulatan Moelyono dengan persoalan sosial, konflik agraria, ingatan sejarah, dan perlawanan masyarakat yang kerap berada di pihak yang dikalahkan. Di antara karya-karya tersebut, tema ludruk dan perkebunan tebu memperlihatkan bagaimana tradisi pertunjukan rakyat dapat menjadi pintu masuk untuk membaca persoalan yang jauh melampaui panggung: penguasaan tanah, eksploitasi tenaga dan kehidupan masyarakat, serta cara warga mempertahankan suara di tengah struktur kekuasaan yang tidak seimbang.
Wicaksono Adi menegaskan bahwa konflik pertanahan pada masa tahun 60-an tidak bisa dilepaskan dari upaya membatasi penguasaan lahan. Kebijakan pembatasan tersebut ditujukan untuk mengatasi ketimpangan kepemilikan tanah dan melawan dominasi kelompok yang saat itu disebut sebagai tuan tanah.
Namun, pembatasan itu juga memunculkan siasat untuk menghindari aturan. Pemilik lahan yang menguasai tanah sangat luas, misalnya, membagi-bagi kepemilikannya secara administratif dengan mencatut nama kerabat. Bahkan, nama kerabat yang tinggal di luar kota atau yang telah meninggal dunia pun digunakan untuk menyamarkan penguasaan tanah yang sebenarnya. Praktik semacam ini memperlihatkan betapa persoalan agraria bukan sekadar soal luas tanah, melainkan juga pertarungan kepentingan, kekuasaan, dan akses terhadap sumber penghidupan.
Konteks sejarah inilah yang membuat instalasi perkebunan tebu dalam pameran ini tidak berhenti sebagai gambaran lanskap pertanian. Di balik hamparan tebu, tersimpan persoalan tentang siapa yang menguasai tanah, siapa yang memperoleh keuntungan, dan siapa yang harus menanggung akibat eksploitasi. Melalui tema ludruk, Moelyono menghubungkan persoalan tersebut dengan tradisi kritik rakyat—sebuah cara masyarakat menyuarakan pengalaman dan ketidakadilan melalui bahasa serta pertunjukan yang mereka kenal.
Namun ada satu ironi kecil yang menggelikan. Moel, yang dalam karya-karyanya banyak mengkritik konflik pertanahan, ketimpangan penguasaan lahan, dan nasib petani yang kehilangan ruang hidup, justru menggelar pembukaan pamerannya di halaman belakang—yang sebetulnya menjadi halaman depan—Orasis Art Space, dengan latar hamparan lapangan golf. Sebuah pemandangan yang menghadirkan kontras tersendiri: di satu sisi, karya-karyanya berbicara tentang tanah, buruh tani, dan perjuangan rakyat mempertahankan ruang hidup; di sisi lain, di hadapan mata terbentang hamparan hijau lapangan golf, sebuah ruang rekreasi eksklusif yang identik dengan kepemilikan dan akses terbatas. Tentu saja, ini bukan berarti Moel sedang menggelar pameran di tempat yang keliru. Justru ironi visual tersebut menghadirkan lapisan tafsir tambahan: persoalan tanah yang selama ini menjadi tema kritiknya seolah hadir secara nyata di luar ruang pamer, menjadi latar yang tak bisa diabaikan begitu saja. (bersambung)
Catatan Henri Nurcahyo ESTETIKA rakyat tidak selalu lahir dari teori seni, ruang akademis, atau eksperimen artistik di dalam studio. Ludruk memperlihatkan bahwa estetika dapat tumbuh dari pengalaman sehari-hari, dari panggung sederhana, guyonan dan plesetan para pemainnya, kecerdikan berbahasa, hingga kemampuan masyarakat menertawakan keadaan yang sesungguhnya getir. Keindahan dalam seni pertunjukan rakyat tersebut tidak selalu dibangun…