Moelyono: Merawat Perlawanan, Menjaga Estetika Rakyat

Catatan Henri Nurcahyo

(Bagian 2 – habis)

PAMERAN Resisten di Orasis Art Space, Surabaya, bukan sekadar menghadirkan karya-karya seni rupa Moelyono, melainkan membuka kembali perjalanan panjang seorang seniman yang menempatkan seni sebagai bagian dari perjuangan masyarakat. Dari buruh pabrik yang memperjuangkan haknya, petani yang terdesak oleh kepentingan ekonomi, masyarakat adat yang mempertahankan tanah ulayat, hingga kesenian rakyat yang kian terpinggirkan, Moelyono terus merawat satu keyakinan: seni tidak boleh berjarak dari kehidupan. Baginya, seni bukan semata urusan keindahan, tetapi juga jalan untuk membangun kesadaran, menyuarakan ketidakadilan, dan menjaga agar estetika rakyat tidak kehilangan tempat di tengah perubahan zaman.

Moelyono menempuh pendidikan seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 1980–1985. Bahkan sejak masa kuliah, ia telah menunjukkan perhatian terhadap masyarakat marginal. Salah satu karyanya, Kesenian Unit Desa (KUD), tidak mendapat dukungan dari kampus untuk dipentaskan.

Setelah menyelesaikan pendidikan tinggi, ia menetap di Tulungagung dan terus mengembangkan praktik seni yang berpihak kepada masyarakat kecil. Pada 1987–1990, ia menginisiasi pameran keliling karya seni anak-anak nelayan dan petani dari Teluk Brumbun dan Nggerangan. Karya-karya tersebut dipamerkan di Tulungagung, Surabaya, Yogyakarta, Salatiga, dan Surakarta.

Pada 1993, ia mendirikan Yayasan Seni Rupa Komunitas (YSRK) untuk mendukung kegiatan kesenian sekaligus pendampingan sosial. Melalui berbagai program, aktivitasnya menjangkau banyak wilayah, mulai dari Jawa dan Nusa Tenggara hingga Aceh, Kalimantan, Maluku, Papua, dan Timor-Leste.

Dedikasinya terhadap seni yang berorientasi pada perubahan sosial mendapat pengakuan ketika pada 1992 ia terpilih sebagai Ashoka Fellow, Innovator for the Public, dari Ashoka Foundation Indonesia. Ia juga mengajar seni rupa dan menulis untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai gagasan Seni Rupa Penyadaran. Kumpulan tulisannya diterbitkan Yayasan Bentang pada 1997 dengan judul “Seni Rupa Penyadaran.”

Dalam pandangan Moelyono, sebagaimana dikutip dari naskah kuratorial yang ditulis Adi Wicaksono, pendidikan merupakan path in, jalan masuk untuk memberdayakan masyarakat. Pendidikan bukan sekadar penyampaian pengetahuan dari pihak yang dianggap lebih tahu kepada mereka yang dianggap belum tahu, melainkan proses mengubah konstruksi berpikir agar masyarakat mampu memahami persoalannya sendiri dan menemukan kemungkinan untuk mengubah keadaan.

Dengan demikian, seni tidak berhenti sebagai representasi penderitaan. Seni dapat menjadi ruang untuk mengenali penyebab penderitaan, mempertemukan pengalaman yang terpisah, dan membangun kesadaran kolektif.

Gagasan tersebut menjadi landasan praktik artistiknya hingga kini. Karya-karya yang ditampilkan dalam “Resisten” bukan sekadar ilustrasi tentang masyarakat tertindas, melainkan jejak keterlibatan panjang yang menghubungkan pengalaman sosial dengan bahasa rupa.

Moelyono telah menggelar pameran tunggal maupun mengikuti pameran kelompok di berbagai negara. Pameran tunggalnya antara lain Pak Moel Guru Gambar di Bentara Budaya Jakarta (2007), Topografi Ingatan: Digital Lempung (2009), Nestapa Tanah Papua di Projectroom Gallery, Kuala Lumpur (2014), Amok Tanah Jawa di Flinders Museum, Adelaide (2018), serta pameran di Langgeng Arts Foundation, Yogyakarta (2017). Ia juga berpartisipasi dalam sejumlah pameran internasional, antara lain Concept, Context, and Contestation di Bangkok Art and Culture Center (2013), Sunshower di National Art Center Tokyo (2017), program Europalia di Belgia (2018), serta pameran di TarraWarra Museum of Art, Australia (2023) dan Van Abbemuseum, Belanda (2024).

Namun reputasi internasional tersebut bukanlah satu-satunya ukuran penting untuk memahami praktiknya. Justru pengalaman panjang bersama masyarakatlah yang memberi landasan bagi pertanyaan-pertanyaan yang terus ia ajukan kepada dunia seni rupa.

Foto dari katalog pameran

Proyek Joko Budheg

Dalam pameran di Surabaya kali ini Moelyono juga menghadirkan instalasi berupa dokumentasi visual Proyek Joko Budheg, sebuah praktik seni lingkungan yang dilakukannya pada 1983 di kawasan Gunung Budheg, Tulungagung. Bukit ini dikenal melalui keberadaan batu besar yang menyerupai sosok manusia dan legenda Joko Budheg yang hidup dalam ingatan masyarakat setempat. Nilai historis dan kesakralan yang dilekatkan pada tempat tersebut menjadikannya bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari lanskap kepercayaan masyarakat.

Proyek Joko Budheg lahir dalam situasi sosial-politik Orde Baru, ketika ruang kebebasan berekspresi dan kritik terhadap kekuasaan berada dalam tekanan rezim yang represif. Dalam konteks itu, praktik seni Moelyono tidak berhenti pada penciptaan karya, tetapi berusaha memasuki ruang hidup masyarakat, berhadapan langsung dengan sejarah lokal, kepercayaan, dan persoalan lingkungan. Ia menjadikan Gunung Budheg sebagai ruang dialog sekaligus medan pertemuan antara seni, masyarakat, dan lingkungan.

Tetapi proyek tersebut tidak sepenuhnya mendapat sambutan baik. Sebagian masyarakat setempat kurang berkenan karena menganggap aktivitas proyek itu berpotensi mengusik kesakralan Gunung Budheg. Bagi mereka, tempat tersebut bukan ruang kosong yang bebas ditafsirkan atau diperlakukan sebagai objek kegiatan seni, melainkan kawasan yang memiliki nilai spiritual dan dihormati secara turun-temurun. Ketegangan ini memperlihatkan bahwa praktik seni yang berusaha masuk ke tengah kehidupan masyarakat tidak selalu berjalan mulus. Ada batas-batas kultural yang harus dihadapi, bahkan dinegosiasikan.

Justru di situlah letak persoalan menarik dari Proyek Joko Budheg. Moelyono berhadapan dengan dua bentuk tekanan sekaligus: situasi politik yang represif di tingkat negara dan resistensi kultural di tingkat masyarakat. Proyek ini menjadi semacam eksperimen tentang sejauh mana seni dapat memasuki ruang sosial, menyentuh kesadaran warga, sekaligus berhadapan dengan keyakinan yang telah mengakar. Dengan demikian, dokumentasi yang kini dipamerkan bukan sekadar rekaman sebuah kegiatan seni pada masa lalu, melainkan juga jejak perjumpaan yang tidak selalu mudah antara gagasan pembaruan, tradisi, dan otoritas kepercayaan masyarakat.

Dalam pameran ini, miniatur Proyek Joko Budheg dihadirkan sebagai instalasi berupa tiruan gundukan tanah menyerupai bukit. Di atasnya tergantung sebuah cikrak, yaitu serok sampah untuk mengumpulkan sampah saat menyapu. Susunan sederhana ini menghadirkan kembali jejak proyek seni lingkungan Moelyono, sekaligus mengundang pengunjung untuk mencermati hubungan antara tindakan artistik, lanskap alam, dan makna sebuah tempat.

Sementara di ruang kecil diputarkan video dokumentasi ketika Proyek Joko Budheg dilangsungkan tahun 1983, dengan latar depan selembar kain putih di atas tikar, di atasnya terdapat 3 buah miniatur Joko Budheg, sebuah kendi, dan taburan tanah yang dibuat melingkar menghubungkan kendai dan miniatur tersebut.

Proyek Joko Budheg menandai perubahan penting dalam cara Moelyono memahami seni, alam dan lingkungan sosial tidak lagi sekadar menjadi objek yang dilukiskan atau dipatungkan, tetapi dapat menjadi bagian langsung dari proses penciptaan. Dengan demikian, karya seni tidak harus berakhir sebagai benda yang ditempatkan di galeri. Ia dapat berlangsung di suatu tempat, berhadapan dengan kepercayaan masyarakat, dan memunculkan pertanyaan tentang hubungan manusia dengan lingkungannya.

Kini, melalui dokumentasi visual yang ditampilkan dalam pameran Resisten, pengalaman tersebut dihadirkan kembali sebagai jejak perjalanan artistik Moelyono. Dokumentasi itu mengingatkan bahwa praktik seni lingkungan bukan semata-mata soal mengubah lanskap fisik, melainkan juga tentang cara manusia memberi makna pada tempat yang mereka huni.

Foto dari katalog pameran

Noken dan Salib Merah

Persoalan lain yang diangkat Moelyono dalam pameran ini adalah perjuangan masyarakat adat Papua mempertahankan tanah ulayat dan lingkungan hidupnya.

Salah satu unsur penting dalam instalasinya ialah noken, tas rajut tradisional Papua, buatan Mama Lena yang tinggal di Wamena. Noken tersebut disatukan dengan elemen visual lain dalam bingkai yang menyerupai Salib Merah. Moel sengaja mengabarkan pameran ini ke Papua, dan Mama Lena mengirimkan tas noken buatannya untuk ikut dipamerkan.

Dalam konteks karya ini, Salib Merah merujuk pada simbol gerakan perlawanan tanpa kekerasan masyarakat adat Papua. Simbol tersebut digunakan dalam perjuangan masyarakat adat, antara lain kelompok Awyu, Wambon, Marind, dan Yei, untuk melindungi tanah ulayat, hutan, serta sungai dari ancaman ekspansi perkebunan kelapa sawit dan proyek strategis nasional.

Noken bukan sekadar benda kerajinan atau penanda identitas budaya. Dalam konteks instalasi Moelyono, ia menjadi penghubung antara kehidupan sehari-hari, pengetahuan tradisional, dan perjuangan mempertahankan ruang hidup.

Sementara itu, Salib Merah menghadirkan gagasan tentang perlawanan yang tidak mengandalkan kekerasan. Tanda larangan yang tampak sederhana dapat menjadi pernyataan politik ketika berhadapan dengan kekuatan yang mengancam keberlangsungan hidup masyarakat.

Kedua unsur itu memperlihatkan cara Moelyono mengolah pengalaman sosial menjadi bahasa visual. Ia tidak sekadar memindahkan simbol dari suatu wilayah ke dalam ruang pamer, tetapi mengajak pengunjung membaca persoalan yang melekat pada simbol tersebut.

Dengan demikian, persoalan Papua tidak hadir sebagai tema yang terpisah dari pengalaman masyarakat di Jawa atau wilayah lain. Semuanya terhubung melalui persoalan mendasar yang sama: hak masyarakat untuk mempertahankan tanah, lingkungan, kebudayaan, dan cara hidupnya.

Mereka yang Kalah

Secara umum, figur-figur dalam karya-karya Moelyono menampilkan gestur dan gerak-gerik yang berkaitan dengan upaya bertahan hidup. Mereka adalah orang-orang yang berada di pinggiran, menghadapi tekanan, atau terdesak oleh keadaan, tetapi tidak sepenuhnya menyerah.

Salah satunya divisualkan dalam lukisan berjudul: “Mengambang Hidup Buruh Petani Tebu” (2025). Dalam lukisan ini Moelyono menghadirkan sosok seorang laki-laki bertubuh kurus yang tampak telentang atas lembaran daun pisang, dengan wajah menghadap ke atas. Ia mengenakan caping lebar, sementara kedua tangannya terkulai di sisi tubuh dan kedua kakinya terlihat tanpa alas. Sejumlah bilah sabit atau alat pemotong tebu melintang di bagian dada hingga perutnya. Posisi tubuh yang rebah, dipadukan dengan alat-alat kerja yang seolah melekat pada dirinya, menghadirkan kesan ganjil sekaligus mengusik.

Tubuh itu seperti sedang mengambang, tetapi juga menyiratkan keadaan seseorang yang kehilangan daya untuk mengendalikan nasibnya sendiri. Apakah ia sedang beristirahat setelah bekerja keras, terkapar karena kelelahan, atau justru menjadi gambaran buruh yang tubuhnya telah terkuras oleh sistem kerja perkebunan? Moelyono  membiarkan figur tersebut berbicara melalui bahasa visual.

Di sekelilingnya tampak kobaran api dan kepala binatang bertanduk yang menyerupai kerbau. Unsur-unsur ini memperluas suasana lukisan, menghubungkan tubuh buruh dengan lingkungan agraris yang penuh ketegangan. Sosok manusia, alat pemotong tebu, api, dan kerbau hadir dalam satu komposisi yang seolah mempertemukan kerja, kehidupan, dan ancaman.

Judul ini menjadi kunci untuk membaca keseluruhan karya. Kehidupan buruh perkebunan seakan tidak memiliki pijakan yang kokoh. Mereka mengerahkan tenaga dan tubuh untuk menghasilkan komoditas, tetapi nasib dan masa depannya sendiri tetap berada dalam ketidakpastian. Di balik manisnya gula yang dihasilkan dari tebu, ada tubuh-tubuh pekerja yang mungkin justru harus menanggung pahitnya kehidupan.

Sementara itu, dalam lukisan “Mengambang Hidup Kesenian Petani,” Moelyono menghadirkan sosok seorang petani yang juga telentang mengenakan caping lebar dan pakaian bermotif tradisional. Kedua kakinya telanjang, sementara sejumlah benda berbentuk bundar menyerupai perangkat musik perkusi atau instrumen gamelan menempel berderet di bagian dada hingga perutnya. Benda-benda tersebut seolah menyatu dengan tubuh sang petani, menjadikannya figur yang tidak hanya lekat dengan dunia pertanian, tetapi juga dengan kehidupan kesenian.

Di bagian bawah lukisan tampak kobaran api, sedangkan sebuah wadah berisi benda-benda yang menyerupai hasil bumi berada di dekat kakinya. Berbagai elemen itu membentuk komposisi surealis yang mempertemukan kehidupan agraris dengan ekspresi kebudayaan. Petani tidak hanya ditampilkan sebagai orang yang bekerja mengolah tanah dan menghasilkan bahan pangan, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki tradisi, kreativitas, dan kehidupan artistik.

Judul lukisan ini mengundang pembacaan lebih jauh mengenai keberadaan kesenian yang tumbuh dari kehidupan masyarakat agraris. Kesenian bukan sesuatu yang hadir dari luar atau terpisah dari kehidupan sehari-hari petani. Ia justru tumbuh dari lingkungan sosial, pengalaman bekerja, tradisi, dan kebersamaan masyarakat desa. Namun, kata “mengambang” juga menyiratkan pertanyaan tentang keberlangsungan kehidupan kesenian tersebut: sejauh mana kesenian rakyat dapat bertahan ketika kehidupan masyarakat pendukungnya sendiri menghadapi berbagai tekanan sosial dan ekonomi?

Foto dari katalog pameran

Kedua lukisan yang pernah dipamerkan di Artsubs 2025 ini, seperti memperlihatkan dua sisi kehidupan petani: tubuh yang bekerja untuk mempertahankan hidup dan kebudayaan yang tumbuh dari kehidupan itu sendiri. Lukisan pertama menghadirkan tubuh buruh sebagai representasi manusia yang bergulat dengan pekerjaan dan ketidakpastian hidup. Sedangkan lukisan kedua menghadirkan tubuh petani yang seolah menyatu dengan perangkat kesenian, sebagai representasi kehidupan budaya masyarakat agraris. Atau, jangan-jangan kesenian desa juga ikut terkapar di atas tubuh manusia yang sudah tergeletak tak berdaya.

Dalam konteks ini, kebetulan kelompok ludruk yang digandeng Moel berkolaborasi memang tergolong ludruk yang laris manis. Dalam kurun waktu sebulan sulit mencari jadwal kosong dari tanggapan. Mereka yang hendak nanggap Ludruk Budi Mulia harus bersedia antri untuk sekian bulan ke depan. Tetapi, bagaimana dengan kelompok ludruk pada umumnya? Bisa dibilang banyak yang sudah tumbang. Bukan karena sepi peminat, karena setiap kali ada pertunjukan ludruk selalu dibanjiri penonton. Tetapi yang semakin langka adalah orang yang masih mau nanggap pertunjukan ludruk ketika menggelar hajatan. Hiburan orkes dangdut atau cukup dengan sajian organ tunggal sudah dianggap memadai. Kelompok ludruk yang mayoritas inilah pantas disebut dalam golongan “kelompok yang kalah.”

Di sinilah judul pameran Resisten memperoleh maknanya. Resistensi bukan hanya tindakan melawan secara terbuka. Ia juga dapat berupa kemampuan bertahan, menolak tunduk, menjaga ingatan, dan mempertahankan martabat ketika pilihan yang tersedia sangat terbatas.

Orang yang kalah tidak selalu berarti orang yang takluk. Kekalahan dapat terjadi karena ketimpangan kekuasaan, sedangkan ketaklukan menyangkut hilangnya daya untuk mempertahankan diri. Di antara keduanya terdapat ruang yang menjadi perhatian Moelyono: ruang tempat masyarakat terus mencari cara untuk hidup dan melawan, meskipun tidak selalu menang.

Karena itu, karya-karya dalam pameran ini lebih tepat dibaca sebagai jejak dari praktik artistik yang panjang daripada sebagai pernyataan yang berdiri sendiri. Di dalamnya bertemu pengalaman pendampingan sosial, dialog dengan kesenian rakyat, persoalan lingkungan, konflik pertanahan, dan upaya merawat ingatan kolektif.

Di Mana Marsinah?

Satu hal yang sebetulnya melekat pada sosok Moelyono adalah Marsinah. Tetapi dalam pameran di Orasis ini sama sekali tidak ada karya yang terkait dengan Marsinah. Mengapa demikian?

Marsinah adalah buruh perempuan berusia 25 tahun yang semasa hudupnya bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik arloji di Porong, Sidoarjo. Ia dikenal sebagai sosok buruh yang berani memperjuangkan hak-hak pekerja, terutama ketika pada Mei 1993 para buruh menuntut perusahaan memenuhi ketentuan kenaikan upah minimum. Marsinah aktif mencari tahu nasib rekan-rekannya yang dipanggil dan mengalami tekanan aparat militer setelah aksi tersebut.

Namun, keberaniannya harus dibayar mahal. Pada 8 Mei 1993, jenazahnya ditemukan di sebuah gubuk di wilayah Nganjuk, dalam kondisi mengenaskan dengan tanda-tanda kekerasan. Kematian Marsinah menjadi salah satu kasus pelanggaran hak asasi manusia yang menyita perhatian nasional dan internasional, sekaligus menjadikannya simbol perjuangan kaum buruh perempuan melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan kekuasaan.

Maka pada tanggal 12 Agustus 1993, memperingati 100 hari kematian Marsinah, Moel bersama dengan sejumlah buruh yang merupakan kawan-kawan Marsinah, menggelar pameran berjudul “Pameran Seni Rupa untuk Marsinah” (Art Exhibition for Marsinah). Pameran direncanakan berlangsung pada 12–16 Agustus 1993 di Gedung Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Jalan Pemuda, Surabaya.  

Yang membuat peristiwa ini penting dalam sejarah seni rupa Indonesia adalah bahwa pameran tersebut bahkan belum sempat dibuka untuk umum ketika aparat kepolisian memerintahkan pembatalannya. Majalah Tempo, edisi 21 Agustus 1993, mencatat peristiwa pelarangan itu dalam laporan berjudul “Dua Kota Dua Larangan.” Sementara itu, tulisan Benjamin Waters mengenai kasus Marsinah juga mencatat bahwa polisi datang tiga jam sebelum pembukaan pameran.

Pameran ini bukan sekadar menghadirkan potret atau lukisan untuk mengenang seorang korban kekerasan. Moelyono mengajak kawan-kawan sekerja Marsinah ikut menjadi pencipta karya. Mereka bersama-sama menyusun kembali kisah kehidupan dan hari-hari terakhir Marsinah, sekaligus pengalaman generasi buruh yang berpindah dari kehidupan pertanian ke dunia pabrik.

Aparat juga beralasan bahwa pameran-pameran DKS sebelumnya tidak pernah dilarang karena motivasinya dianggap murni kesenian. Pernyataan ini justru memperlihatkan persoalan mendasar yang dihadapi Moelyono: apakah seni tidak boleh berbicara tentang persoalan politik, ketidakadilan, dan kekerasan terhadap rakyat?

Peristiwa ini juga menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan kesenian Moelyono. Ia bukan hanya mengalami pelarangan sebuah pameran, melainkan juga berhadapan dengan persoalan solidaritas di kalangan seniman.

Dalam laporan khusus Majalah Tempo yang mengisahkan pertemuan Moelyono dengan Wiji Thukul dan Semsar Siahaan di Pantai Brumbun, Tulungagung, Moelyono diceritakan mengungkapkan kekecewaannya karena tidak banyak seniman Surabaya yang tampil membelanya ketika pameran Marsinah dibubarkan.

Pengalaman itu ikut menjadi latar belakang pembentukan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKER) pada 1994, bersama Wiji Thukul, Semsar Siahaan, dan sejumlah aktivis budaya lainnya. Salah satu tujuannya adalah membangun jaringan solidaritas ketika kegiatan kesenian menghadapi pelarangan.

Kisah pameran Marsinah ini layak menjadi salah satu titik penting dalam membaca praktik kesenian Moelyono. Ada ironi sejarah yang kuat: pameran yang hendak memberi ruang bagi suara buruh justru dibungkam oleh kekuasaan. Namun, pembungkaman itu sendiri akhirnya menjadi bagian dari sejarah seni rupa Indonesia.

Ketika soal Marsinah ini ditanyakan ke Moelyono, apa jawabnya?

“Hahaha…. Marsinah kan sudah jadi pahlawan, bareng Soeharto juga.”

Tawa Moelyono itu agaknya bukan sekadar kelakar. Ada nada satire yang terasa getir di balik jawabannya. Dengan menyandingkan Marsinah dan Soeharto dalam satu tarikan kalimat, ia seperti sedang menyentil cara sejarah memperlakukan tokoh-tokohnya: mereka yang dahulu berada pada posisi berhadapan dengan kekuasaan, pada akhirnya sama-sama masuk dalam catatan sejarah, tetapi tidak dengan pengalaman dan makna yang sama.

Jawaban singkat itu juga memperlihatkan watak Moelyono yang kerap menggunakan humor sebagai cara menyampaikan kritik. Ia tidak perlu berpanjang-panjang menjelaskan ironi sejarah; cukup dengan satu celetukan, ia membiarkan pendengarnya menangkap sendiri absurditas sebuah zaman.

Masa Depan Estetika Rakyat

Pada akhirnya, pameran Resisten membawa kita kembali pada kegelisahan Moelyono tentang masa depan estetika rakyat. Ketika seni rupa semakin terhubung dengan pasar dan peristiwa pameran berskala besar, apakah pengalaman masyarakat yang jauh dari pusat kekuasaan masih mendapat tempat? Apakah seniman masih bersedia tinggal, mendengar, dan belajar sebelum mengubah pengalaman orang lain menjadi karya?

Dalam sambutan pembukaan pameran Moel juga melontarkan pertanyaan oratoris: apakah di tengah iklim seni rupa yang meriah oleh pasar ini masih ada anak-anak muda yang memikirkan estetika rakyat?

Pertanyaan itu tidak berarti bahwa pasar seni atau pameran harus ditolak. Persoalannya adalah apakah keduanya menjadi tujuan akhir, atau tetap menjadi ruang untuk memperluas percakapan tentang kehidupan.

Bagi Moelyono, seni tidak cukup hanya menarik perhatian pengunjung. Ia perlu membuka kemungkinan untuk melihat kembali sesuatu yang selama ini luput, mengungkap relasi kuasa yang tersembunyi, dan memberi ruang bagi suara yang kerap tidak terdengar.

Ludruk mengajarinya bahwa perlawanan dapat hadir melalui guyonan. Noken dan Salib Merah memperlihatkan bahwa simbol budaya dapat membawa tuntutan politik. “Geger Pabrik Gula” mengingatkan bahwa tanah menyimpan sejarah konflik yang tidak selesai hanya karena waktu berlalu. Sementara figur-figur dalam lukisan dan drawing-nya menunjukkan bahwa mereka yang dikalahkan masih mungkin mempertahankan martabat dan daya hidup.

Empat dekade lebih Moelyono menjalankan Seni Rupa Penyadaran. Dalam perjalanan itu, ia tidak hanya mengajak masyarakat belajar melalui seni, tetapi juga terus belajar dari masyarakat tentang arti seni itu sendiri.

Dalam pemikiran dan praktik kesenian Moelyono, seni rupa penyadaran dapat dipahami sebagai praktik kesenian yang tidak berhenti pada penciptaan objek indah atau pemenuhan kepuasan estetis, melainkan menjadikan seni sebagai sarana membangun kesadaran kritis masyarakat terhadap realitas sosial di sekitarnya. Seni tidak semata-mata berbicara tentang masyarakat, tetapi tumbuh bersama masyarakat, berangkat dari pengalaman hidup, persoalan, ketidakadilan, dan suara mereka yang kerap tidak terdengar.

Dalam pendekatan ini, masyarakat bukan sekadar objek yang digambarkan seniman, melainkan subjek yang terlibat dalam proses kreatif sekaligus ikut menentukan makna karya. Dengan demikian, seni menjadi medium dialog, refleksi, dan pemberdayaan, yang memungkinkan masyarakat mengenali persoalannya sendiri serta menemukan keberanian untuk menyuarakan perubahan.

Mungkin inilah inti Resisten: bukan sekadar gambaran tentang mereka yang melawan, melainkan kesediaan untuk terus mempertanyakan keadaan yang membuat perlawanan diperlukan.

Sebab, ketika seseorang masih sanggup mempertahankan ingatan, menyuarakan ketidakadilan, dan menolak menerima keadaan sebagai sesuatu yang wajar, perlawanan belum berakhir. Dan seni, bagi Moelyono, masih memiliki pekerjaan yang belum selesai. (selesai)

Catatan Henri Nurcahyo (Bagian 2 – habis) PAMERAN Resisten di Orasis Art Space, Surabaya, bukan sekadar menghadirkan karya-karya seni rupa Moelyono, melainkan membuka kembali perjalanan panjang seorang seniman yang menempatkan seni sebagai bagian dari perjuangan masyarakat. Dari buruh pabrik yang memperjuangkan haknya, petani yang terdesak oleh kepentingan ekonomi, masyarakat adat yang mempertahankan tanah ulayat, hingga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *