Cerita Panji Sebagai Salah Satu Unsur Warisan Budaya Takbenda Masa Majapahit

Oleh Henri Nurcahyo

USAI sudah perjalanan Festival Panji ASEAN yang dilangsungkan sejak tanggal 7 – 28 Oktober 2023 di kota-kota Yogyakarta, Kediri, Malang, Surabaya, Pandaan, dan Surakarta. Sebanyak 9 dari 11 negara anggota ASEAN terlibat dalam pertunjukan kolaborasi dengan cerita “Panji Semirang.”  Memang hanya satu cerita yang dipergelarkan namun masing-masing negara mendapatkan bagian tersendiri adegan yang dibawakannya. Sembilan negara itu adalah Laos, Thailand, Kamboja, Myanmar, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, dan tentu saja Indonesia. Dua negara lainnya adalah Brunei Darussalam dan Timor Leste yang tidak ikut serta dalam festival ini.

Ada yang bertanya, “apakah betul di Vietnam ada Cerita Panji?” Menurut Bambang Pujasworo  yang menjadi penulis naskah Panji Semirang dalam pertunjukan kolaborasi ini, bahwa secara tradisi kemungkinan memang Cerita Panji ada di Vietnam tapi tipis sekali. Begitu pula di Filipina, sebagaimana disebutkan oleh Steven Fernandez, pimpinan rombongan dari Filipina, bahwa Cerita Panji memang tidak banyak dikenal. Tradisi Panji di Vietnam dan Filipina tidak sekuat yang ada di Laos, Thailand, Kamboja, dan juga Myanmar. Demikian pula di Brunei Darussalam, kemungkinan Panji juga tidak banyak dikenal. Tetapi dengan adanya Panji versi Melayu yang berkembang ke seluruh semenanjung Melayu bisa jadi di Brunei juga ada Panji. Dalam festival ini delegasi Brunei batal bergabung dalam pertunjukan kolaborasi bersama negara-negara ASEAN lainnya meski sudah disiapkan plot adegan yang akan dimainkannya. Alhasil jatah Brunei itu dimainkan oleh Malaysia.

Pertanyaan yang sama juga bisa ditujukan untuk Timor Leste. Apakah di Timor Leste juga terdapat jejak Cerita Panji? Tidak penting lagi menjawab pertanyaan ini. Bisa jadi jawabannya adalah “tidak”. Kebetulan Timor Leste memang sudah sejak awal tidak berhasil diajak bergabung dalam festival ini.

Yang jelas penyelenggaraan pertunjukan kolaborasi ini memang tidak berangkat dari konsep menampilkan cerita Panji yang ada di negara-negara ASEAN, tetapi sebaliknya, mengajak semua negara ASEAN ikut bergabung tanpa harus mempertimbangkan ada tradisi Panji apa tidak di negaranya. Masing-masing delegasi ditunjuk oleh Kementerian Kebudayaan setempat untuk membawakan seni pertunjukan sesuai dengan konsep yang sudah disiapkan oleh Indonesia selaku tuan rumah. Thailand misalnya, penunjukan anggota delegasi dilakukan oleh Departmen of Perfoming Arts yang mengelola seniman-seniman profesional.

Dalam hal ini Bambang Pujasworo bertindak selaku penulis naskah dan sutradara. Tentu saja mereka yang dipilih menjadi delegasi adalah para penari atau seniman pertunjukan sehingga tidak kesulitan untuk bergabung dalam pertunjukan kolaborasi ini. (Pembagian adegan menurut negara bisa dibaca di sini: https://sandhya-citralekha.org/2023/10/16/sinopsis-adegan-panji-semirang/)

Dari sembilan negara yang berkolaborasi dalam pertunjukan “Panji Semirang” ini hanya Indonesia yang pemainnya selalu berganti. Ketika digelar di Yogyakarta dimainkan oleh seniman-seniman Yogyakarta. Demikian pula ketika dipertunjukkan di Kediri, Malang, Pandaan, dan juga Surakarta. Dengan demikian maka bagian adegan yang menjadi jatah Indonesia itu berbeda-beda di setiap kota, meski secara keseluruhan masih tetap berkesinambungan dengan adegan keseluruhan.

Hal ini berbeda dengan Festival Panji tahun 2018, yang meski hanya diikuti oleh tiga negara (Indonesia, Thailand, dan Kamboja) tapi malah disebut Festival Internasional. Waktu itu perjalanan delegasi Festival Panji merambah kota-kota mulai dari Denpasar, Pandaan, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Yogyakarta, dan berakhir di Jakarta. Sementara festival yang baru berlangsung kali ini diikuti 9 negara namun hanya cukup menyebut Festival (tingkat) ASEAN. Dalam festival 6 tahun yang lalu itu masing-masing negara menampilkan cerita Panji sesuai dengan tradisi yang ada di negara masing-masing. Hal yang sama juga terjadi dalam Festival Ramayana yang berulangkali diselenggarakan di Prambanan maupun Taman Candra Wilwatikta Pandaan, di mana tahun 2013  diberi nama Festival Majapahit.

Jadi, kalau berharap ingin tahu cerita Panji di negara-negara peserta Festival Panji ASEAN kali ini, tidak akan ketemu. Tetapi yang bisa didapatkan adalah bagaimana busananya, bagaimana cara menari dan musiknya, dan kadang ada sebagian dialog atau nyanyiannya. Karena semua delegasi memainkan cerita yang satu maka penonton harus jeli untuk melihat siapa pemain yang sedang memerankan tokoh apa. Masing-masing negara memiliki kesepatan menghadirkan tokoh yang sama dengan kostum yang berbeda. Ia bisa jadi berbusana Thai dan Kamboja yang khas dengan tutup kepala berupa pagoda, namun di kesempatan lain berbusana Melayu. Bahkan Panji dan Sekartaji dan orangtuanya menjadi sosok berbusana China ketika  dimainkan oleh delegasi Singapura yang mengingatkan film-film China.

Yang dipentingkan dalam festival ini adalah bagaimana menyatukan atau memperkuat penyatuan negara-negara ASEAN dalam satu semangat yang sama, yaitu semangat Panji. Dengan kata lain bahwa untuk memperkuat persatuan dari negara-negara anggota ASEAN itu dapat dilakukan melalui Cerita Panji. Itulah catatan penting dari festival ini.

Sebagaimana diketahui bahwa ciri utama dari Cerita Panji adalah semangat penyatuan dua belah pihak, yang dalam hal ini disimbolkan dengan penyatuan kerajaan Janggala dan Panjalu, penyatuan Raden Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji. Raden Panji dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu, sedangkan Dewi Sekartaji sebagai titisan dari Dewi Sri. Penyatuan Panji dan Sekartaji adalah bentuk penyatuan pria dan wanita yang menghasilkan kesuburan atau keturunan yang kemudian disimbolkan dalam kesuburan padi. Hal ini dapat dimaknai bahwasanya cinta kasih itu dapat mempersatukan. Semangat penyatuan lelaki dan perempuan inipun berlanjut menjadi bersatunya lingga dan yoni, sperma dan ovum. 

Bahkan semangat penyatuan ini juga dimaknai sebagai bertemunya matahari dan rembulan, pertemuan siang (terang) dan malam (gelap), malam dan siang. Dalam sebuah webinar Rudi Irawanto memaknai pertemuan ini sebagai pertemuan jagad gedhe dan jagad alit, pertemuan bapa dan biyung (ibu), langit dan bumi, pertemuan dunia atas dan dunia bawah.  Bahkan bisa pula ditambahkan bahwa semangat penyatuan itu terjadi antara aliran sungai dan lautan, atau antara mata air dan danau. 

Namun pakar sastra dari Malaysia, Noriah Mohammed mengingatkan, bahwa kita harus dapat menangkap makna yang tersirat dan makna yang tersurat. Gagasan penyatuan dalam Cerita Panji bukan sekadar bersatunya dua belah pihak belaka melainkan juga kebersatuan dengan Sang Maha Pencipta dan makhluknya (Manunggaling Kawula lan Gusti). Karena Cerita Panji selalu berhubungan dengan Dewa-dewa. Apapun yang terjadi selalu dikatakan: “ini semua sudah kehendak Dewa.”[1]

Festival Panji ASEAN telah berhasil membuat ikatan kemenyatuan yang kuat melalui cerita Panji, terlepas apakah di semua negara-negara anggota ASEAN memang terdapat jejak tradisi Panji atau tidak. Atau, sangat mungkin bahwa Cerita Panji di suatu negara berbeda dengan yang ada di negara lain. Sebagaimana dituturkan oleh Bambang Pujasworo, dari sisi teknis masing-masing negara memiliki gaya tari yang berbeda, dan musik yang berbeda. Juga interpretasi atas lakon itu juga berbeda. Misalnya delegasi Kamboja terang-terangan mengatakan bahwa Cerita Panji di sana tidak seperti ini. Ketika Bambang memberi tahu cara memegang boneka, mereka mengatakan bahwa di Kamboja bukan boneka yang diberikan oleh Raden Inukertapati kepada Raja Panjalu, tetapi dua bilah keris.

Bambang harus minta maaf bahwa dasar cerita yang digunakan adalah versi Jawa, di mana yang diserahkan adalah boneka. Bukan keris. Hanya saja, mereka bertanya, bagaimana dengan pemotongan rambutnya? Karena kalau di Kamboja, dengan keris yang diberikan ke Raja Kediri itulah rambut Sekartaji dipotong. Dijelaskan oleh Bambing, panggilan akrab Bambang Pujasworo, bahwa raja Jawa mempunyai kebiasaan selalu menyelipkan keris di punggungnya. Tradisi ini tidak terdapat di Kamboja. Akhirnya Kamboja mau menyesuaikan. Dikatakannya, sebenarnya hal ini tidak lazim di Kamboja tapi mau dilakukan demi memenuhi permintaan Indonesia.

Semangat kemenyatuan ini bukan sekadar dipertontonkan di atas panggung, melainkan penyelenggaraan festival ini sendiri dilakukan secara kolaboratif dalam hal pendanaan. Masing-masing negara peserta itu tidak semuanya ditanggung biayanya oleh pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemendikbud. Hanya sebagian kecil saja. Selebihnya tanggungan negara masing-masing. Toh mereka bersedia ikut acara ini meski dengan biaya sendiri. Sedangkan biaya pergelaran dan semua acara di Indonesia ditanggung secara bersama oleh Kemendikbud, Pemerintah Provinsi (DIY, Jateng, dan Jatim) serta pemerintah kota Yogyakarta, Kediri, Malang, dan Surakarta. Lagi-lagi, inilah semangat kemenyatuan yang selaras dengan “Semangat Panji.” (naskah di atas sudah dimuat di: https://sandhya-citralekha.org/2023/10/31/cerita-panji-memperkuat-penyatuan-asean/_)

Warisan Majapahit

Sejak kapan Cerita Panji dikenal? Ada sejumlah perbedaan pendapat mengenai hal ini. Konon Cerita Panji lahir pada masa Kediri namun baru populer 200 tahun kemudian pada masa Majapahit. Earl Drake ketika menulis buku “Gayatri Rajapatni” (Komunitas Bambu, 2012) menyebutkan bahwa ketika Singhasari diserbu oleh Jayakatwang dari Kediri (1292 M) maka Gayatri yang merupakan putri bungsu Kertanegara melakukan penyamaran dengan menjadi anak salah seorang pegawai rendah kraton yang tewas dalam penyerbuan agar lolos dari pembantaian pasukan Kediri. Dengan menyamar berbusana laki-laki dan menggunakan nama Ratna Sutawan kemudian Gayatri bersama abdinya, Sodakara, menghamba pada kerajaan Kadiri. Ide penyamaran ini dilakukan oleh Gayatri lantaran terinspirasi oleh Cerita Panji yang sangat disukainya ketimbang Mahabarata dan Ramayana. Gayatri yang mengagumi Sekartaji itu berharap dengan adanya penyamaran ini kelak akan dapat bertemu dengan Pangeran Panji yang ternyata mewujud dalam diri Raden Wijaya dan kemudian memperistrinya. Dari teks ini dapat diartikan bahwa Cerita Panji sudah beredar pada masa Kediri.

Namun Agus Aris Munandar justru berpendapat bahwa Cerita Panji lahir pada masa Majapahit. Menurutnya Cerita Panji ibarat asap, sedangkan apinya adalah peristiwa sejarah pada masa Majapahit. Agus lantas menyejajarkan peristiwa pengelanaan Raden Wijaya setelah Singhasari diserbu yang kemudian mengilhami lahirnya pengelanaan Raden Panji Inukertapati dalam mencari Dewi Sekartaji. Demikian pula ketika Raden Wijaya dan kawan-kawan mendirikan pedukuhan di Wilwatikta dengan membuka hutan Tarik sebelum menyerbu Jayakatwang menurut Agus identik dengan peristiwa Raden Panji membuat pesanggrahan di Wirasaba sebelum menuju Kediri untuk membantu kerajaan itu menghadapi serbuan kerajaan Metaun. Agus juga menyejajarkan Ratu Tribhuwana Tunggadewi yang memimpin sendiri penyerbuan terhadap Sadeng  dengan bertindak sebagai ksatria identik dengan Candrakirana yang menghilang dari keraton Daha dan kemudian menyamar menjadi pria dengan nama Panji Semirang. Bahkan peristiwa Perang Bubat juga menginspirasi lahirnya Panji Angreni di mana sosok Dyah Pitaloka digambarkan sebagai Angreni yang terbunuh sehingga Prabu Hayam Wuruk patah hati sebagaimana juga dialami oleh Raden Panji.

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas maka Cerita Panji mengalami masa kejayaannya pada masa Majapahit yang antara lain ditandai dengan sekian banyak relief Cerita Panji yang terdapat pada belasan candi yang kesemuanya diciptakan pada masa Majapahit.  Lydia Kieven, ketika meneliti sosok yang mengenakan topi (tekes) di relief   20 candi di Jawa Timur, ternyata ada 7 (tujuh) candi yang dipastikan terkait dengan Cerita Panji dan 5 candi lain diduga terkait Cerita Panji.[2]  Pascapenerbitan disertasinya Lydia kemduian menemukan lagi tambahan relief Panji di Candi Gambar Wetan dan Selokelir. Sementara Agus Aris Munandar dan Ninie Susanti mendeskripsikan ada 10 (sepuluh) bangunan kepurbakalaan dari era Majapahit yang mengandung relief Cerita Panji.[3] Berbagai ahli nampaknya sependapat bahwa hal ini seiring dengan masa kejayaan Majapahit dimana pada waktu itu Cerita Panji sedemikian populer hingga seolah-olah sudah menjadi “cerita negara”. Ditemukannya sekian banyak relief dan artefak Panji yang kesemuanya dibuat pada masa Majapahit sudah menunjukkan bukti kuat tentang hal itu.[4]

Sedangkan Raja Majapahit Prabu Hayamwuruk ketika melakukan perjalanan ke daerah-daerah, yang kemudian dituliskan oleh Mpu Prapanca dalam Desa Warnana (Negara Krtagama), dikisahkan sambil menari raket (atapukan, topeng) yang mengisahkan cerita Panji. Hal ini menandakan bahwa pada masa itu Cerita Panji sudah dikenal. Bahkan Cerita Panji ini sede-mikian populer seiring dengan suburnya berbagai jenis kesenian yang membawakannya di mana-mana. Maka ada saat-saat dimana Cerita Panji sanggup bersaing dengan cerita klasik Ma-habarata dan Ramayana. Cerita Panji adalah cerita alternatif yang tak kalah menariknya dengan kisah dari Negeri India itu. Cerita Panji justru hadir sebagai bentuk perlawanan (counter culture) terhadap budaya India. Salah satu jenis kesenian itu adalah Wayang Beber yang kini hanya tersisa di Pacitan dan Gunungkidul.

Merupakan fakta yang menarik bahwa Cerita Panji yang berasal dari Jawa Timur tersebar di berbagai daerah nusantara, seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Lombok, Sulawesi Selatan, bahkan meluas ke semenanjung Melayu di negeri seberang seperti Malaysia, Singapura dan Brunei, juga menyebar ke Kamboja, Laos, dan Thailand (Siam) serta Burma (Myanmar).

Dengan demikian, ke mana saja Cerita Panji beredar tentunya seiring dengan persebaran wilayah kekuasaan Majapahit. Terlepas apakah hanya menjadi klaim sepihak atau memang sesungguhnya, Nagarakrtagama pupuh 13dan 14 menyebutkan bahwa daerah-daerah di luar Jawa yang dikuasai Majapahit meliputi sebagian besar Sumatera, Kalimantan (Tanjung Pura), Semenanjung Tanah Melayu (Hujung Medini), sedangkan daerah-daerah di sebelah timur Jawa meliputi: Bali, Bedahulu, Lo Gajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Dompo, Sapi, Gunung Api, Seram, Hutan Kadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon atau Maluku, Wanin, Seram dan Timor.

Penyebutan daerah-daerah ini mirip dengan isi Sumpah Palapa yang dikumandangkan oleh Gadjah Mada:

Semangat Majapahit adalah semangat penyatuan. Sebagaimana sudah dideklarasikan oleh Patih Gadjah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa (1334 M): 

“Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”

Menurut sumpah itu, Gajah Mada mengatakan ada 10 wilayah di Nusantara yang harus mengakui kejayaan Majapahit, yaitu Gurun (Lombok), Seran (kepala burung di Papua), Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumatera Utara), Pahang (Semenanjung Melayu), Dompo (Sumbawa, dekat Bima), Sunda (Jawa Barat), Bali, Palembang (Sumatera Selatan), dan Tumasik (Singapura).

Tentu saja tidak dapat dipastikan bahwa di semua daerah itu juga terdapat Cerita Panji dalam berbagai variannya. Bisa jadi hanya sebagian daerah saja, atau bisa juga ada daerah yang tidak tercantum dalam daftar “wilayah kekuasaan” Majapahit tersebut namun terpengaruh secara budaya sehingga Cerita Panji ikut tersebar ke wilayah yang berdekatan atau memiliki hubungan (dagang misalnya) dengan daerah yang menjadi kekuasaan Majapahit itu. Sebab wilayah budaya memang tidak dapat diidentikkan dengan wilayah administratif politik.

Sumpah Palapa adalah simbol penyatuan nusantara sehingga digunakan sebagai nama bagi sejumlah satelit telekomunikasi geostasioner Indonesia yang diluncurkan tanggal 8 Juli 1976 oleh roket Amerika Serikat dan dilepas di atas Samudra Hindia. Satelit Palapa adalah salah satu ide dan gagasan Presiden RI ke-2 HM Soeharto, di mana dikisahkan pada saat itu Pak Harto sedang memikirkan bagaimana menyambungkan komunikasi di wilayah nusantara yang begitu luas dan terpisah jarak begitu jauh.

Karsono H. Saputra, dalam makalahnya: Cerita Panji: Genre, Pertumbuhan dan Persebaran, yang disampaikan dalam seminar “Cerita Panji sebagai Warisan Budaya Dunia,” Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, 28-29 Oktober 2014 menuturkan: “Agak sulit merunut mengapa Cerita Panji menyebar jauh ke luar geografi kebudayaan Jawa. Meskipun demikian kenyataan itu menunjukkan bahwa pada masa lalu telah terjadi kesejagadan budaya Jawa, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik melalui hubungan politik, budaya maupun hubungan perdagangan.”

Hal ini senada dengan tengara Nooriah Mohammed, pemakalah dari Malaysia dalam seminar yang sama, yang mengatakan, penyebaran Cerita Panji ke seluruh Kepulauan Nusantara disebabkan adanya dorongan daripada hal politik, perdagangan dan budaya yang banyak kemiripannya. Setiap penerima cerita ini atau khalayak akan membaurkan rentetan cerita dengan unsur tempatan (lokal) sebagaimana yang berlaku dalam Cerita Panji Melayu, Thai dan Kemboja.

Menurut Adrian Vickers, berbagai ragam cerita Panji yang tersebar di Jawa, Sumatera, Malaysia, Thailand hingga ke Indochina menunjukkan kekerabatan yang kuat yang ada di ka-wasan Asia Tenggara. Cerita yang disusun berdasarkan nuansa istana, dan pangeran kelana, menunjukkan tingginya interaksi antara satu kelompok etnis dan budaya yang kesemuanya mengacu pada satu kebudayaan bersama yang mengadopsi keragaman. Bahkan interaksi tersebut memungkinkan menembus batas kolonial yang selama ini coba diterabas melalui ide pascakolonial atau modernitas.[5]

Sebagai warisan Majapahit Cerita Panji juga masih terlestarikan dalam wayang beber yang terdapat di Pacitan dengan lakon “Jaka Kembang Kuning” dan di Wonosari Gunung Kidul dengan lakon “RemengMangunjaya.” Meskipun kedua lakon ini tercipta pada masa Mataram Islam namun wayang beber yang berasal dari wayang watu ini mulai populer pada masa Majapahit dengan adanya tambahan tongkat panjang yang digunakan untuk menggulung dan memperlihatkan cerita dari tiap adegan. Ketika itulah muncul nama Wayang Beber yang berarti wayang yang pementasannya dengan cara dibentangkan.[6]

Catatan Akhir

Cerita Panji merupakan pusaka budaya warisan Majapahit yang kini kembali dipopulerkan. Terlepas dari perbedaan pendapat masa kelahiran Cerita Panji bahwa pada zaman Majapahit Cerita Panji sangat populer sehingga menjadi semacam “cerita negara” yang menjadi budaya tanding dari epos Mahabarata dan Ramayana. Hal ini menjadi pelajaran masa kini bahwa jangan sampai budaya bangsa sendiri dikalahkan oleh budaya dari luar. Jangan sampai anak-anak muda khususnya lebih menyukai budaya luar namun malah melupakan dan tidak mau tahu dengan pusaka budaya bangsa sendiri. Kalau dulu Cerita Panji yang berasal dari Jawa Timur dapat menyebar dan memengaruhi kebudayaan berbagai negara, lantas mengapa sekarang justru banyak budaya luar yang menyerbu negeri sendiri?

Substansi Cerita Panji adalah semangat penyatuan, yang hal ini kemudian sejalan dengan Sumpah Palapa yang berusaha menyatukan nusantara, seiring dengan kejayaan Majapahit yang mampu digdaya sebagai kerajaan yang disegani di seluruh penjuru nusantara. Semangat penyatuan itulah yang kemudian diaplikasikan dalam penyelenggaraan Festival Panji ASEAN 2023 yang berhasil menyatukan 9 negara anggota ASEAN untuk secara bersama-sama melakukan kolaborasi dalam pementasan sendratari kolosal “Panji Semirang”, meskipun tidak semua negara tersebut memiliki tradisi Panji yang kuat atau bahkan bisa jadi sudah punah.

Wayang Beber adalah salah satu jenis kesenian yang bisa dianggap sebagai warisan Majapahit yang masih tersisa dan bahkan terus berkembang hingga sekarang. Dan di Mojokerto, yang selama ini mengklaim sebagai cikal bakal Majapahit, ternyata wayang beber dikembangkan di kalangan generasi muda, diajarkan di sekolah-sekolah tingkat dasar hingga menengah atas, bahkan mulai muncul dalang-dalang dari kalangan anak-anak. Ini satu hal yang menggembirakan.

Sidoarjo, November 2023

Henri Nurcahyo, penulis buku dan pegiat Budaya Panji, wakil ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur, pendiri dan ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan, dosen luar biasa mata kuliah “Kajian Panji” di UNIPA Surabaya, dan Asesor Pengelola Tradisi Lisan. Kontak: henrinurcahyo@gmail.com

  • Foto-foto: Iin dan Henri Nc
  • Ini materi presentasi acara Dialog Budaya: Merawat Peradaban Majapahit, di pendopo Pengelolaan Informasi Majapahit, Minggu, 12 November 2023

[1] Bagian ini sudah saya sampaikan dalam Seminar Internasional Tradisi Lisan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 12-15 Juni 2023.

[2] Lydia Kieven meneliti hal ini sebagai bahan kajian disertasi doktoralnya di Sydney University dengan judul: “Following the Cap-Figure in Majapahit Temple Reliefs”

[3] Agus Aris Munandar dan Ninie Susanti. “Makna Kisah Panji”. Makalah Seminar Cerita Panji sebagai Warisan Dunia. Perpustakaan Nasional, 28-29 Oktober 2014.

[4] Bahasan topik ini sudah saya tulis dalam buku “Memahami Budaya Panji” terbitkan Komunitas Seni Budaya BrangWetan, 2015, dalam bab berjudul “Penyebaran Cerita Panji.” (Henri Nurcahyo)

[5] Vickers,  Peradaban Pesisir. Universitas Udayana,

[6] https://budaya.jogjaprov.go.id/berita/detail/1140-sejarah-wayang-beber-di-bumi-nusantara#:~:text=Wayang%20Beber%20bermula%20dari%20relief,digunakan%20untuk%20menyebarkan%20ajaran%20agama. Diakses tanggal 32 Oktober 2023

Oleh Henri Nurcahyo USAI sudah perjalanan Festival Panji ASEAN yang dilangsungkan sejak tanggal 7 – 28 Oktober 2023 di kota-kota Yogyakarta, Kediri, Malang, Surabaya, Pandaan, dan Surakarta. Sebanyak 9 dari 11 negara anggota ASEAN terlibat dalam pertunjukan kolaborasi dengan cerita “Panji Semirang.”  Memang hanya satu cerita yang dipergelarkan namun masing-masing negara mendapatkan bagian tersendiri adegan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *