Budaya Panji sebagai Fondasi Kultural Pertahanan Nasional
Catatan Henri Nurcahyo
DEWAN Pertahanan Nasional (DPN) mengunjungi Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Ini hal yang langka dan menarik dicermati. Apa hubungannya (baca: apa pentingnya) kesenian bagi pertahanan? Sampai-sampai DPN yang berinisiatif melakukan audensi dengan DKS, bukan sebaliknya. Sebagai pegiat Budaya Panji, saya mencoba memahaminya dari perspektif Budaya Panji sebagai simbol pemersatu nusantara.
Dalam acara yang berlangsung hari Rabu siang (29/4) itu DPN dipimpin oleh Dr. Begi Hersutanto, S.H., M.A. Deputi Bidang Geopolitik DPN, didampingi oleh Marsma TNI Aminto Senisuka, S.T., M.Eng (TA Madya Depbid Geopolitik DPN); Laksma TNI R. Firman Noegraha W., M.Sc. (TA Madya Depbid Geopolitik DPN); Kolonel Laut (H/W) Nentin Feriyanti, S.H., M.Tr.Hanla., M.Tr.Han., M.M., M.H. (TA Muda Depbid Geopolitik DPN); Kolonel Cba Edwar Rizal, S.Sos. (TA Muda Depbid Geopolitik DPN); M. Zulkarnain Maddatuang, S.E., M.Si. (TA Muda Depbid Geopolitik DPN); dan Pelda Rudy Priyanto (Staf Bagian Umum, Sekretariat DPN).

Sedangkan pihak DKS selaku tuan rumah dipimpin oleh Chrisman Hadi (ketua DKS yang tidak diakui Pemkot Surabaya), disertai oleh Henri Nurcahyo (Komunitas Budaya Panji), Isa Anshori (pendidikan), Indar Sabri, Andre Surya Putra, Tri Suryanto, Desemba Titaheluw, Rusdi Zaki, Imam CB, Agung Wahyu Hari Saputro (Ketua Dewan Kesenian Magetan), Mahamuni Paksi, Suyitno, dan juga beberapa pengurus GMNI Surabaya Raya.
DPN itu memang lembaga baru. Lahir dari Peraturan Presiden Nomor 202 Tahun 2024 tentang Dewan Pertahanan Nasional, yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo, dengan ketua harian Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin dan Wakil Menteri Pertahanan RI, Donny Ermawan Taufanto menjadi Sekretaris.
DPN merupakan lembaga yang dibentuk untuk memberikan pertimbangan serta merumuskan solusi kebijakan di bidang pertahanan nasional. Lembaga ini memainkan peran penting dalam menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa.
Struktur DPN terdiri dari seorang ketua yang dipilih oleh Presiden, serta sejumlah anggota tetap dan anggota tidak tetap. Anggota tetap DPN terdiri dari sejumlah pejabat tinggi, seperti Wakil Presiden, Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, dan Panglima TNI. Selain itu, juga termasuk Menteri Sekretaris Negara, Menteri Keuangan, Kepala Badan Intelijen Negara dan Kepala Staf Angkatan dalam jajaran anggota DPN.
Merunut perjalanannya, sebelum DPN namanya adalah Dewan Ketahanan Nasional (1999), sebelumnya lagi berupa Dewan Pertahanan Keamanan Nasional (Wanhamkamnas, 1970), Dewan Pertahanan Nasional (Depertan, 1961); Dewan Keamanan Nasional (1954); Dewan Pertahanan Negara (1946). Jadi ternyata lembaga ini memang sudah berdiri sejak setahun setelah proklamasi Republik Indonesia.
Apapun namanya, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Begi Hersutanto, kedatangannya ke DKS adalah untuk “belanja masalah” terkait dengan persoalan kebudayaan dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPN guna memberikan solusi kebijakan kepada Presiden RI selaku Ketua DPN di Bidang Pertahanan Nasional dalam bentuk rekomendasi strategis mencakup kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa.

Budaya Panji
Lantaran forum ini memang dalam rangka “belanja masalah” maka pihak DPN lebih banyak mendengarkan paparan peserta pertemuan. Kebetulan saya diberi kesempatan pertama untuk bicara. Langsung saja saya memulai dengan memperkenalkan secara singkat apa itu Cerita (Budaya) Panji, yang lahir pada masa kerajaan Kadiri, populer masa Majapahit, menyebar ke seluruh nusantara, termasuk beberapa negara di Asia Tenggara. Cerita Panji itu ibarat epos Ramayana versi Jawa, pernah menjadi simbol pemersatu budaya nusantara, sehingga Adrian Vickers (2009) menyebutnya Peradaban Panji atau Peradaban Pesisir.
Tahun 2017 keberadaan naskah-naskah Panji yang berjumlah ratusan jumlahnya dan tersebar di berbagai negara itu ditetapkan oleh UNESCO sebagai Memory of the World (MoW), sebagaimana naskah-naskah sebelumnya, seperti: Negara Krtagama, Ila Galigo, Babad Diponegoro, Arsip-arsip Renovasi Candi Borobudur, Arsip Tsunami, dan sebagainya. Semangat penyatuan yang menjadi substansi Cerita Panji itulah yang kemudian diaktualisasikan dalam penyelenggaraan Festival Panji ASEAN tahun 2023 di 6 kota Jatim dan Jateng, yang diikuti oleh 9 dari 11 negara ASEAN. Hanya Brunei Darussalam dan Timor Leste yang absen lantaran alasan teknis.
Cerita (Budaya) Panji sangat relevan dengan isu pertahanan nasional karena Panji memang asli Indonesia, bukan impor dari India. Cerita Panji menjadi “cerita negara” pada masa Majapahit, sehingga dipahatkan dalam bentuk relief dan arca di belasan candi di Jatim. Cerita Panji dalam bentuk sastra tutur, naskah, motif batik dan tekstil kuna, topeng, dan beragam seni pertunjukan, menjadi budaya tanding atas hegemoni budaya India pada masa itu.
Dan inilah yang kemudian dirumuskan dalam Trisakti oleh Bung Karno, yaitu: Berdaulat dalam politik; Berdikari dalam ekonomi (berdiri di atas kaki sendiri); dan Berkepribadian dalam kebudayaan.
Sektor kebudayaan itulah yang sangat penting dalam pertahanan bangsa dan negara. Dalam hal ekonomi, ilmu pengetahuan, juga militer, Indonesia tak sanggup bersaing dengan negara-negara lain. Tetapi dalam hal kebudayaan, Unesco mengakui bahwa Indonesia adalah negara superpower.
Agar dapat memahami perihal Budaya Panji lebih utuh, maka saya memberikan cendera mata kepada Dr Begi berupa dua buku karya saya: Memahami Budaya Panji, dan Panji Masa Kini.

Kebudayaan adalah Soft Power
Karena itu kebudayaan jangan diposisikan sebagai “hiasan samping” geopolitik—ia justru menjadi fondasinya. Negara yang kokoh biasanya bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling jelas jati dirinya. Kebudayaan adalah “soft power” yang terukur. Indonesia memang negara kaya, tapi sering belum terkurasi sebagai kekuatan geopolitik. Negara seperti Jepang dengan anime atau Korea Selatan dengan K-wave menunjukkan bahwa budaya bisa jadi instrumen pengaruh global. Indonesia perlu memetakan “produk budaya unggulan” (wayang, batik, kuliner, narasi maritim, hingga budaya Panji) sebagai aset diplomasi, bukan sekadar warisan.
Karena itu dalam memahami narasi Nusantara bukan hanya sebatas geografi, tapi cara pandang dunia: maritim, terbuka, dan berjejaring. Ini bisa diproyeksikan sebagai tawaran alternatif di tengah ketegangan global. Menghidupkan kembali memori sejarah seperti Kejayaan Majapahit bukan untuk romantisme, tapi sebagai kerangka berpikir—bahwa Indonesia pernah menjadi simpul dunia.
Bahwasanya ketahanan budaya adalah juga ketahanan nasional. Ancaman hari ini bukan hanya militer, tapi juga infiltrasi nilai dan disinformasi. Penguatan literasi budaya lokal (bahasa daerah, tradisi, seni) menjadi tameng psikologis bangsa. Orang yang tahu akar budayanya, tidak mudah goyah oleh arus global yang seragam.
Sementara itu, Indonesia yang memiliki wilayah yang sangat luas ini, masih rentan dengan persoalan perbatasan dengan negara lain. Perlu dipahami, bahwa perbatasan sebagai ruang budaya, bukan garis mati. Karena selama ini wilayah perbatasan sering dipandang hanya dari sisi keamanan. Padahal ia adalah “etalase identitas”. Menguatkan ekosistem budaya di perbatasan (festival, pendidikan, ekonomi kreatif) akan mempertegas kehadiran negara secara halus tapi efektif.
Seiring dengan hal itu, maka latihan militer bersama negara-negara tetangga yang sering dilakukan selama ini, alangkah baiknya juga disertai pertukaran budaya. Misi perdamaian bisa membawa seni dan narasi Indonesia. Ini membangun kedekatan emosional antarbangsa—sesuatu yang tidak bisa dicapai hanya dengan alutsista.
Di sisi lain, pada era algoritma sekarang ini, yang menguasai cerita akan menguasai persepsi. Negara perlu hadir dalam produksi konten global—film, game, literatur—agar Indonesia tidak hanya menjadi objek cerita, tapi subjek yang bercerita. Bagaimana menjadikan ekonomi budaya sebagai basis kekuatan. Industri kreatif bukan sekadar ekonomi alternatif, tapi bagian dari strategi geopolitik. Ketika budaya menghasilkan nilai ekonomi, ia otomatis mendapat daya tawar internasional.
Dalam dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, kekuatan suatu negara tidak lagi semata ditentukan oleh aspek militer dan ekonomi, melainkan juga oleh kemampuan membangun pengaruh melalui kebudayaan. Indonesia sebagai negara dengan keragaman budaya yang tinggi memiliki potensi besar untuk mengembangkan kebudayaan sebagai instrumen strategis dalam memperkuat posisi geopolitik.
Pengalaman negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan menunjukkan bahwa kebudayaan yang terkelola dengan baik dapat menjadi sumber daya lunak (soft power) yang efektif dalam membangun citra, pengaruh, dan jejaring internasional. Dalam konteks ini, Indonesia perlu menempatkan kebudayaan sebagai bagian integral dari strategi pertahanan nasional.

Jatidiri dan Ketahanan Budaya
Setelah mendengarkan seluruh paparan, Dr. Begi Hersutanto menegaskan bahwa kebudayaan merupakan aspek fundamental yang tidak bisa dipisahkan dari strategi kebangsaan dan pertahanan. Menurutnya, banyak negara besar justru membangun daya tahannya melalui fondasi budaya yang kokoh. Tiongkok, misalnya, dikenal konsisten menjaga eksistensi peradaban dan nilai budayanya. Di sana hidup filosofi taichi: energi yang datang tidak selalu dilawan secara frontal, melainkan dihadapi dengan kelenturan, pengalihan, lalu diputar menjadi kekuatan balik.
Thailand juga memiliki pendekatan khas yang sering disebut doktrin bambu. Bambu adalah simbol ketahanan: ia dapat melengkung diterpa angin kencang, tetapi tidak mudah patah, dan selalu kembali tegak. Filosofi ini menggambarkan kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan akar.
Hal serupa tampak pada Korea Selatan. Meski hidup dalam tensi geopolitik berkepanjangan dengan Korea Utara, Korea Selatan tidak semata mengandalkan kekuatan militer. Negara ini justru menjadikan kebudayaan sebagai instrumen soft power yang efektif. Fenomena yang kini dikenal dunia sebagai K-Pop, drama Korea, hingga gelombang budaya Korea, menurut Begi, lahir dari kesadaran strategis negara dalam membangun pengaruh global melalui budaya. Karena itu, kehadiran negara dalam ekosistem kebudayaan menjadi sangat penting untuk membangun cultural awareness dan daya saing bangsa.
“K-Pop itu idenya dari Menteri Pertahanan Korsel,” tegasnya.
Pria asal Sidoarjo ini, meski merupakan ilmuwan lulusan Amerika Serikat, menekankan bahwa modernitas tidak seharusnya memutus manusia dari akar spiritualnya. Ia mengaku tetap menaruh perhatian pada nilai-nilai spiritual Nusantara, bahkan menunjukkan kekaguman pada Kapitayan sebagai salah satu sistem kepercayaan asli masyarakat Jawa. Menurutnya, spiritualitas merupakan fondasi penting yang kerap terabaikan. Selama ini publik banyak didorong mengejar kecerdasan intelektual dan emosional, namun lupa pada kecerdasan spiritual. Padahal, kecerdasan spiritual adalah “antena batin” yang membuat manusia lebih intuitif, peka, dan memiliki kedalaman orientasi hidup.
Ia menutup pandangannya dengan menekankan pentingnya memahami identitas dan jati diri bangsa. Ketika individu maupun bangsa mengalami konflik identitas, yang terkikis bukan hanya arah berpikir, melainkan juga kekuatan batin. Karena itu, menurutnya, agenda besar kita adalah merangkul kembali jati diri sendiri—embracing identity—sebagai fondasi ketahanan nasional yang paling mendasar.

Rekomendasi
Menurut saya (HN), langkah-langkah yang kemudian perlu dijalankan adalah, bagaimana: Mengintegrasikan kebudayaan dalam kerangka kebijakan geopolitik dan pertahanan nasional; Memperkuat ketahanan nasional melalui penguatan identitas dan literasi budaya, dan; Meningkatkan daya saing dan pengaruh Indonesia di tingkat global melalui diplomasi budaya.
Secara kongkrit, rekomendasi yang bisa dikedepankan adalah: Mendorong penetapan kebudayaan sebagai salah satu pilar utama dalam kebijakan geopolitik nasional, sejajar dengan pertahanan, ekonomi, dan diplomasi.
- Menyusun peta jalan (roadmap) penguatan soft power berbasis kebudayaan, meliputi identifikasi produk budaya unggulan, penguatan narasi nasional, serta strategi diseminasi global;
- Mengembangkan narasi geopolitik yang berakar pada pengalaman historis Indonesia sebagai peradaban maritim, termasuk pembelajaran dari Kejayaan Majapahit sebagai referensi konseptual, bukan sekadar simbolik.
- Mengintegrasikan program penguatan budaya lokal, bahasa daerah, dan tradisi dalam kebijakan ketahanan nasional guna menghadapi ancaman non-militer seperti disinformasi dan penetrasi budaya asing.
- Menjadikan wilayah perbatasan sebagai ruang hidup kebudayaan melalui penguatan kegiatan seni, tradisi, dan ekonomi kreatif guna mempertegas identitas nasional.
- Memasukkan unsur kebudayaan dalam kegiatan diplomasi pertahanan, seperti latihan bersama, misi perdamaian, dan forum internasional, untuk membangun kedekatan emosional antarnegara.
- Mendorong digitalisasi aset budaya dan produksi konten kreatif berbasis budaya Indonesia guna memperkuat kedaulatan narasi di ruang digital global.
- Mengembangkan industri kreatif sebagai bagian dari strategi geopolitik, dengan mendorong kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, pelaku budaya, dan industri.
Kebudayaan merupakan sumber kekuatan strategis yang belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam kerangka geopolitik Indonesia. Dengan pengelolaan yang terarah dan terintegrasi, kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagai identitas nasional, tetapi juga sebagai instrumen pengaruh global yang efektif.
Oleh karena itu, diperlukan komitmen kebijakan yang kuat untuk menempatkan kebudayaan sebagai bagian integral dari strategi pertahanan nasional, sehingga Indonesia mampu berdiri tegak tidak hanya sebagai kekuatan regional, tetapi juga sebagai peradaban yang memberi arah dalam percaturan dunia.

Sebagai pamungkas, ketua DKS Chrisman Hadi memberikan cenderamata berupa sebilah keris kepada Dr Begi. Nampak sekali pria ini memperlakukannya dengan santun kepada pusaka budaya nusantara itu. Keris diterima dengan kedua belah tangan, dilepaskan dari warangkanya, ditempelkan ke dada, dihadapkan persis di depan wajahnya dengan mata terpejam, kemudian matanya terbuka dengan memandang ke atas, dan perlahan memasukkan kembali ke warangkanya.Sebagai imbal balik, Dr Begi memberikan cendera mata berupa plakat DPN ukuran sedang khusus untuk lembaga DKS, dan semacam koin DPN dalam kotak yang juga diberikan kepada masing-masing peserta acara ini. (*)
Henri Nurcahyo: Ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan (www.brangwetan.com), pegiat dan penulis buku-buku Budaya Panji. Email: [email protected]
Catatan Henri Nurcahyo DEWAN Pertahanan Nasional (DPN) mengunjungi Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Ini hal yang langka dan menarik dicermati. Apa hubungannya (baca: apa pentingnya) kesenian bagi pertahanan? Sampai-sampai DPN yang berinisiatif melakukan audensi dengan DKS, bukan sebaliknya. Sebagai pegiat Budaya Panji, saya mencoba memahaminya dari perspektif Budaya Panji sebagai simbol pemersatu nusantara. Dalam acara yang…