Boeng, Ayo (Ngopi) Boeng

Catatan Henri Nurcahyo

KOLABORASI Affandi dan Chairil Anwar pernah melahirkan sebuah lukisan poster yang ikonik: “Boeng Ajo Boeng” (Bung Ayo Bung). Idenya dari Soekarno, yang meminta agar memvisualkan semboyan “Freedom or death” (Merdeka atau mati). Lantas Affandi menjadikan pelukis Dullah sebagai modelnya. Kemudian penyair Chairil Anwar, mengubah semboyan itu dengan kalimat “Boeng Ajo Boeng.”  Sebuah frasa yang lebih hidup, lebih bernada panggilan, dan lebih “menyentuh” untuk rakyat jelata dibandingkan “Freedom or death” yang agak formal.

Dikisahkan, kemudian poster tersebut dicetak ulang dan disebarluaskan ke seluruh pelosok negeri, ditempelkan di kereta api, di tembok, dan pusat-pusat keramaian. Ia menjadi salah satu artefak visual paling penting dari revolusi fisik (1945-1949), memobilisasi semangat juang rakyat dengan bahasa visual dan verbal yang sederhana namun dahsyat.

Bukan hanya seniman, Bung Karno (BK) memang dekat dengan berbagai golongan, termasuk rakyat kebanyakan. Proklamator Republik Indonesia itu tidak pernah segan bercengkerama dengan siapapun dalam suasana yang akrab tanpa batasan formalitas. Sebuah kebanggaan tersendiri manakala kita mendapatkan kesempatan bisa ngopi berdua dengan Bung Karno, misalnya.

Nah angan-angan seperti itulah yang kemudian divisualkan oleh Shodiq Indo, dengan karyanya berjudul: “Ngopi dulu Bung.” Lukisan berukuran vertikal 200×300 cm itu merupakan salah satu karya yang dipamerkan dalam Pameran Lukisan Vivere Pericoloso di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), 12-19 Juni 2026.

Dalam lukisan itu memperlihatkan BK duduk santai di kursi sangat rendah, menghadap meja kecil dengan dua buah cangkir kopi. Bung Karno yang mengenakan seragam kehijauan lengkap dengan peci hitamnya terlihat sedang tersenyum lebar. Tangan kanannya agak terangkat, seolah-olah ia sedang asyik berbicara dengan seseorang yang berada di depannya.

Di atas meja kayu di hadapannya, terdapat dua cangkir kopi hitam yang masih hangat. Padahal, di meja itu Bung Karno hanya duduk sendirian, tanpa ada orang lain di dekatnya. Keberadaan dua cangkir kopi ini sebenarnya memiliki makna tersendiri. Cangkir pertama adalah kopi yang diminum oleh Bung Karno untuk menemaninya berpikir dan mencari inspirasi selama masa-masa sepi di pengasingan. Sementara itu, cangkir kedua sengaja ia sediakan untuk orang lain yang ingin datang dan menemaninya ngobrol.

Bagi Bung Karno, cangkir kedua itu adalah simbol bahwa ia selalu terbuka untuk berdiskusi dengan siapa saja, mulai dari rakyat biasa hingga teman seperjuangan. Di bawah pohon besar itulah, meskipun fisiknya sedang diasingkan dan sendirian, ia tetap menghidupkan pikirannya dengan membayangkan dialog-dialog penting tentang masa depan Indonesia sambil menikmati secangkir kopi.

Ketika dipamerkan, di depan lukisan ini ditempatkan sebuah kursi agak menyamping, yang memberikan kesempatan pada pengunjung pameran duduk dengan pose seolah-olah meraih salah satu cangkir kopi tersebut, dan berbincang akrab secara imajiner dengan Bung Karno.

Nah, di sinilah lukisan ini menemukan konteksnya yang paling menarik. Jika dihubungkan dengan poster “Boeng Ajo Boeng”, lukisan ini seakan melontarkan ajakan baru: “Bung, ayo ngopi, Bung.” Sebuah gagasan sederhana, tetapi cerdas dan akrab.

Penataan karya di ruang pamer (skenografi) ternyata memberi lapisan makna yang tak terpisahkan dari lukisan itu sendiri. Bayangkan jika di depannya tidak diletakkan sebuah kursi. Sosok Bung Karno akan tampak janggal karena posisinya terlalu rendah. Namun ketika kursi itu hadir, lukisan tersebut seolah menjadi ruang perjumpaan. Tak heran, banyak pengunjung pameran bergantian duduk di kursi itu, membayangkan dirinya sedang menyeruput kopi bersama Bung Karno. Di sinilah konteks menghidupkan teks, dan lukisan berubah menjadi pengalaman.

Saya membayangkan, jika suatu hari lukisan ini dikoleksi seseorang, di depannya sebaiknya tetap disediakan sebuah kursi rendah. Dengan begitu, siapa pun dapat merasakan sensasi “ngopi bersama BK”. Terlebih jika lukisan itu ditempatkan di beranda atau ruang yang mudah diakses tamu, sehingga setiap tamu dapat dipersilakan duduk sejenak, menyeruput kopi, dan berbincang secara imajiner dengan Sang Proklamator—seolah Bung Karno tak pernah benar-benar pergi, hanya sedang menunggu teman ngopi berikutnya.

Sebuah Penanda Baru

Shodiq Indo, kelahiran Surabaya tahun 1971, konon baru kali inilah mengikuti pameran lukisan yang benar-benar serius. Ia memang pernah berpameran di Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI), tetapi forum tersebut lebih berorientasi pada pasar dan penjualan karya. Karena itu, kehadiran pelukis kontemporer yang membuat karya impresif dalam pameran ini terasa seperti sebuah penanda baru.

Dari sisi teknis, kemampuannya sudah matang. Penguasaan gaya realisnya tampak mantap dan meyakinkan. Namun yang lebih penting, kali ini ia hadir dengan sebuah gagasan yang kuat dan segar. Sebab, karya seni tidak berhenti pada kecakapan teknis menghadirkan bentuk visual semata. Pada akhirnya, yang membuat sebuah karya memiliki daya hidup dan daya ingat adalah ide, tafsir, dan percakapan yang dibangunnya bersama penikmat. Di titik itulah, lukisan Shodiq Indo menemukan kekuatannya.

Terus terang, saya tidak melakukan wawancara dengan Shodiq, namun lukisan BK di bawah sebuah pohon ini mengingatkan pada sebuah kisah yang sangat terkenal bahwa Bung Karno sering duduk dan merenung di bawah sebuah pohon sukun di Kota Ende. Menurut penuturan Bung Karno sendiri, di bawah pohon itulah ia merenungkan nilai-nilai yang kemudian menjadi cikal bakal Pancasila. Bung Karno menjalani masa pengasingan oleh pemerintah kolonial Belanda di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur sekitar tahun 1934–1938. Tentu saja BK belum menjadi presiden. Indonesia belum diproklamasikan.

Di bawah pohon sukun yang menghadap ke Teluk Ende itulah Bung Karno sering duduk merenung, berkontemplasi, hingga akhirnya mendapatkan inspirasi lima butir mutiara pemikiran yang kita kenal sekarang sebagai Pancasila. Karena nilai sejarahnya, pohon sukun dengan lima cabang tersebut kerap disebut sebagai “Pohon Pancasila.”

Namun, tentu saja bahwa Pancasila tidak lahir seketika pada satu hari di bawah pohon itu. Gagasan tersebut merupakan hasil proses perenungan yang panjang selama masa pengasingannya di Ende. Bung Karno diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Ende pada 14 Januari 1934 dan tinggal di sana hingga 18 Oktober 1938. Dalam rentang hampir lima tahun itulah benih-benih pemikirannya tentang dasar negara Indonesia tumbuh dan matang.

Bung Karno bahkan pernah mengungkapkan: “Di bawah pohon sukun ini kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.”

Karena itu, banyak sejarawan menyebut Ende sebagai “Kota Pancasila”, bukan karena Pancasila secara resmi lahir di sana—karena pidato kelahiran Pancasila baru disampaikan Bung Karno pada 1 Juni 1945 di sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) melainkan karena di Endelah gagasan dasarnya ditempa melalui perenungan yang mendalam. Dan secara simbolis, dapat dikatakan: Pancasila digali di Ende, lalu dilahirkan di Jakarta pada tanggal 1 Juni 1945.

Memang, yang ada dalam lukisan itu bukan pohon sukun, entah pohon apa, sepertinya mirip dengan pohon Randu Alas (Kapas Hutan). Pohon purba ini memiliki batang bawah yang  besar dan kokoh, tekstur kulit kayu yang kasar, dan ketika memasuki musim tertentu, daunnya mulai rontok (meranggas) sehingga tajuknya terlihat jarang dan menyisakan ranting-ranting besar yang estetik seperti di lukisan.

Saya tidak tahu, apakah Shodiq menjadikan peristiwa pohon sukun di kota Ende itu sebagai bahan inspirasinya, namun apapun alasannya, penikmat lukisan sah-sah saja memberikan penafsiran tersendiri. Bisa jadi penafsiran itu berbeda dengan maksud pelukis, atau sama sekali tidak terpikirkan olehnya.

Kalau toh pohon dalam lukisan itu adalah Randu Alas (bisa jadi bukan), namun penampakannya seperti pohon purba raksasa. Batang bawahnya yang besar, berlekuk, dan kokoh menjadi simbol visual yang sempurna untuk menggambarkan karakter Bung Karno sebagai fondasi atau “tiang utama” bangsa. Pohon raksasa ini seolah menjadi pelindung yang megah, menegaskan status beliau sebagai pemimpin besar.

Ukuran batang pohon yang masif di latar belakang menciptakan kontras skala yang menarik. Batang raksasa itu membuat proporsi manusia (Bung Karno) dan meja kopi di bawahnya terlihat kecil, namun di saat yang sama justru menarik perhatian mata penonton langsung ke figur Bung Karno yang berada tepat di tengah-tengah bawah pohon tersebut.

Sesungguhnya seorang pelukis tidak selalu terikat pada dokumentasi sejarah yang kaku seperti fotografer. Pelukis lukisan ini kemungkinan besar menggunakan imajinasinya untuk menciptakan suasana yang lebih teatrikal. Dia meminjam keindahan pohon purba Randu Alas demi mencapai estetika lukisan lanskap yang dramatis, mistis, sekaligus berwibawa, tanpa menghilangkan esensi cerita bahwa Bung Karno sedang merenung di bawah pohon.

Soal mengapa Bung Karno digambarkan mengenakan busana formal sebagaimana yang kita kenal pada masa kepresidenannya, tentu hal itu dimaksudkan agar sosok tersebut segera terbaca dan dikenali sebagai Bung Karno. Kesan yang muncul tentu akan berbeda jika yang divisualkan adalah seorang lelaki berkemeja santai atau mengenakan kaus dan sarung, lalu diklaim sebagai Bung Karno. Secara faktual mungkin saja Bung Karno pernah berpenampilan demikian, tetapi daya pengenal dan kekuatan simboliknya tidak akan seketika hadir.

Bagaimanapun, lukisan sebagai karya seni bukanlah rekonstruksi peristiwa secara harfiah sebagaimana kejadian sesungguhnya. Ia bergerak di wilayah tafsir dan imajinasi. Seorang pelukis tidak semata-mata merekam kenyataan, melainkan memilih, menyaring, dan menyusun ulang tanda-tanda visual untuk menghadirkan makna tertentu. Dalam konteks inilah, sosok Bung Karno yang berpakaian formal lebih merupakan sebuah simbol yang memudahkan kita memasuki gagasan yang hendak ditawarkan pelukis, ketimbang upaya menghadirkan adegan historis secara persis.

Catatan Pamungkas

Melalui lukisan “Boeng Ayo Ngopi Boeng”, kita diajak untuk melihat sisi lain dari seorang pemimpin besar yang kerap digambarkan meledak-ledak di atas podium. Di sini, Bung Karno tampil begitu membumi dan hangat, mengingatkan kita bahwa pemikiran-pemikiran besar yang mengubah sejarah bangsa sering kali lahir dari momen-momen sunyi yang bersahaja. Pelukis berhasil menangkap esensi keintiman tersebut, mengubah sebuah kanvas menjadi ruang tunggu imajiner yang melintasi ruang dan waktu.

Pilihan visual pelukis yang menempatkan pohon purba sejenis Randu Alas ketimbang pohon sukun sejarah, menegaskan bahwa karya ini bukan sekadar dokumentasi masa lalu yang kaku. Pohon raksasa yang kokoh namun meranggas itu menjadi simbol yang kuat tentang keteguhan jiwa Bung Karno di tengah kesepian pengasingan. Dari ranting-rantingnya yang jarang, cahaya harapan tetap bisa menembus dan menerangi meja kayu tempat dua cangkir kopi disajikan.

Pada akhirnya, cangkir kedua yang tetap terisi di atas meja adalah sebuah undangan terbuka yang tak pernah kedaluwarsa bagi kita, generasi penerus bangsa. Melalui secangkir kopi yang disediakan Bung Karno dalam lukisan ini, kita seolah dipanggil kembali untuk duduk bersama, menyisihkan perbedaan, dan melanjutkan obrolan yang belum selesai tentang masa depan Indonesia. Sebuah ajakan visual yang puitis namun membumi: Boeng, ayo ngopi, Boeng! (*)

Henri Nurcahyo, penerima Livetime Achievement Award 2026 – Surabaya Art Prize 2026 – Orasis Art Space.  

(foto-foto dari FB dan WAG DKS)

Catatan Henri Nurcahyo KOLABORASI Affandi dan Chairil Anwar pernah melahirkan sebuah lukisan poster yang ikonik: “Boeng Ajo Boeng” (Bung Ayo Bung). Idenya dari Soekarno, yang meminta agar memvisualkan semboyan “Freedom or death” (Merdeka atau mati). Lantas Affandi menjadikan pelukis Dullah sebagai modelnya. Kemudian penyair Chairil Anwar, mengubah semboyan itu dengan kalimat “Boeng Ajo Boeng.”  Sebuah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *